Jadi Penulis: Bisa Bayar Apa?

Posted 18 Nov 2014 — by admin
Category Jasa Ghostwriting, inspirasi

Banyak yang meragukan potensi penghasilan seorang penulis. Lebih-lebih bila Anda sudah menjadi penulis, hahaha …. Hitung punya hitung, seorang penulis memperoleh uang royalti tak begitu banyak. Saya paling sering menyamakan duit yang masuk ke kantong penulis tak lebih dari seharga teh botol dingin. Tiga ribuan saja, per buku dari hasil royalti. Saat ini, sudah jarang penerbit mau berjudi menginvestasikan uangnya untuk mencetak 5.000 eksemplar buku. Mereka lebih banyak mencari jalan aman. Cukup cetak pertama dua ribuan eksemplar saja. Itu pun harus banyak disertai promosi dan doa tak terputus agar seluruh buku itu terserap pasar.

Mari berhitung, jika buku Anda dibandrol Rp30.000 per buku, dan buku Anda dicetak 2.000 eksemplar maka potensi perolehan uang Anda adalah enam juta rupiah masih dikurangi pajak dan biaya selama Anda membuat naskah. Itu juga baru Anda terima per semester, enam bulan ke depan. Padahal, uang 6 juta (hanya) setara Upah Minimal Propinsi Jakarta selama 2 bulan!

Saya tak ingin membuat Anda mengempiskan impian menjadi penulis. Sebab, membagi tulisan tak melulu cari uang. Saya berbelok cerita saja. Saya mau berbagi kisah nyata. Kisah saya.

syarat pendaftaran SMA Van Lith

fanni di SMA Van Lith, Muntilan

Ketika anak pertama saya hendak masuk SMA, saya dan istri perlu berdebat panjang dengan tim pewawancara sekolah. Bisa ditebak, urusannya adalah soal uang bayar sekolah. Berhubung anak saya masuk sekolah berasrama maka negosiasi tak sekadar uang gedung tapi juga berhitung dengan uang kegiatan dan uang asrama. Ada dua “celaka” di situ. Pertama, kami digolongkan orang Kota karena berasal dari jabotabek. (sebagai informasi, sekolah anak saya berlokasi di Jawa Tengah). Kedua, fakta tak terbantahkan adalah istri saya bekerja di perusahaan media yang cukup ternama. Dua “celaka” itu telah menempatkan kami dalam kategori orangtua sangat mampu.

Saya sampai merasa perlu menunjukkan bukti buku-buku yang pernah saya terbitkan. Itu sebagai pembukti bahwa saya “hanya” penulis buku semata-mata. Singkat kata, nego pun bisa win-win solution. Uang bayaran sekolah terpangkas walau tak murah-murah amat karena kami tetap dianggap ada di grade orangtua sangat mampu.

Jadi, apa saya yang penulis ini sanggup membayar uang sekolah beberapa juta per bulan plus uang gedung yang belasan juta itu?

Terkadang, upps … malah semestinya, kita tak perlu menguatirkan hari esok. Sebab urusan hidup tak seluruhnya harus kita tanggung sendirian. Niat anak saya bersekolah di asrama yang mengajarkan cinta kasih dan berpihak pada kaum miskin tampaknya mendapat apresiasi dari Sang Pencipta. Tak berselang lama, saya sebagai penulis mendapat kepercayaan menyusun naskah buku. Dan … bisa-bisanya Tuhan, nilai satu proyek menulis itu setara biaya bayaran sekolah anak saya itu selama 3 tahun!!

Bahkan, saya sebut itu sebagai KEAJAIBAN pun masih belum cukup. Itu lebih dari sekadar ajaib.

Saya jadi mikir (tepatnya berefleksi) …. Maybe Tuhan berkata pada saya seraya bercanda, “…. Udah lah …. Kamu bantu-bantu AKU. Ntar AKU cukupin kebutuhanmu deh!

Hohohoho ….

Klenteng Pasca-PKI-Phobia

Posted 04 Nov 2014 — by admin
Category inspirasi

Oleh: Anang YB

Mumpung masih hangat dengan topik PKI yg tragedinya kita peringati kemarin (30 September), saya angkat tulisan tentang klenteng dan Vihara (Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutnya ‘Wihara’ alias biara yg didiami oleh para biksu umat Buddha). Apa sih beda Klenteng dan Vihara? Jangan-jangan sama? Obrolan yang saya tangkap (karena sebetulnya bukan saya yang diajak mengobrol) saat berkunjung ke Klenteng Dewi Kwan Im di Belitung Timur, membuat saya jadi paham kalau klenteng bukanlah vihara. Ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Dan … ternyata itu tak bisa lepas dari PKI-Phobia yang amat terasa di era Soeharto.

Detailnya seperti apa? Yuk simak penjelasannya yang saya kutip dari wikipedia.

Wihara adalah rumah ibadah agama Buddha, bisa juga dinamakan kuil. Klenteng adalah rumah ibadah penganut taoisme, maupun konfuciusisme. Tetapi di Indonesia, karena orang yang ke wihara/kuil/klenteng umumnya adalah etnis Tionghoa, maka menjadi agak sulit untuk dibedakan, karena umumnya sudah terjadi sinkritisme antara Buddhisme, Taoisme, dan Konfuciusisme. Salah satu contohnya adalah Vihara Kalyana Mitta yang terletak di daerah Pekojan, Jakarta Barat.

Banyak umat awam yang tidak mengerti perbedaan antara klenteng dan wihara. Klenteng dan wihara pada dasarnya berbeda dalam arsitektur, umat dan fungsi. Klenteng pada dasarnya berarsitektur tradisional Tionghoa dan berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain fungsi spiritual. Wihara berarsitektur lokal dan biasanya mempunyai fungsi spiritual saja. Namun, wihara juga ada yang berarsitektur tradisional Tionghoa seperti pada wihara Buddhis aliran Mahayana yang memang berasal dari Tiongkok.

klenteng wihara dewi kwan im belitung

klenteng (wihara) Dewi Kwan Im, Belitung

Perbedaan antara klenteng dan wihara kemudian menjadi rancu karena peristiwa G30S pada tahun 1965. Imbas peristiwa ini adalah pelarangan kebudayaan Tionghoa, termasuk kepercayaan tradisional Tionghoa, oleh pemerintah Orde Baru. Klenteng yang ada pada masa itu terancam ditutup secara paksa. Banyak klenteng yang kemudian mengadopsi istilah dari bahasa Sanskerta ataupun bahasa Pali, mengubah nama sebagai wihara dan mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan. Dari sinilah kemudian umat awam sulit membedakan klenteng dengan wihara.

Setelah Orde Baru digantikan oleh Orde Reformasi, banyak wihara yang kemudian mengganti nama kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa dan lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng daripada wihara.

klenteng (wihara) Dewi Kwan Im, Belitung

klenteng (wihara) Dewi Kwan Im, Belitung

Salah satu klenteng yang terlanjur dikenal sebagai wihara adalah Klenteng Dewi Kwan Im yang terletak di Kampung Burung Mandi, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Klenteng ini terlihat mencolok dengan dominasi warna merah dan terletak di atas bukit. Anda perlu menaiki tangga berkelok-kelok untuk bisa mencapai bangunan utama. Untuk Anda yang berwisata menggunakan pesawat udara, lokasi klenteng dapat ditempuh selama 1,5 jam menggunakan mobil atau bis dari Bandara Hananjoeddin, Tanjung Pandan, belitung.

Tempat ibadah yang dibangun pada 1474 ini memiliki tiga bangunan utama, yakni bangunan utama sebagai tempat berdoa kepada Dewi Kwan Im, bangunan kedua merupakan tempat berdoa kepada Buddha, dan bangunan ketiga adalah tempat berdoa kepada Toapekong atau Dewa Laut. Uniknya, berhubung wisatawan yang datang tak melulu umat Budha dan Konghucu, maka kegiatan memanjatkan permohonan pun dilakukan oleh wisatawan dari keyakinan yang beragam.

Foto: koleksi Pribadi. Lokasi Klenteng Dewi Kwan Im, Belitung Timur.

Ranselan (5): @Orchard Road, Singapura

Posted 08 Oct 2014 — by admin
Category traveling

Masih meneruskan petualangan hari 3: menuntaskan rasa penasaran dg yg namanya Orchard Road…. Menikmati sore dengan pemandangan toko2 yg super mewah, di tengah lalu lalang orang dengan tentengan di tangan…..

Menyempatkan mampir ke Lucky Plaza, konon katanya tempat menjual souvenir2 dengan harga cukup murah….

Kaki udah gak bisa diajak kompromi untuk melanjutkan destinasi berikutnya, akhirnya menyerah dan balik hotel aja deh…..

Ranselan (4): @Merlion, Esplanade, Marina Bay Sand, dan Es Potong S$1

Posted 08 Oct 2014 — by admin
Category traveling

Petualangan hari 3: meninggalkan Johor Bahru menuju Singapore. Ternyata saat jam berangkat kantor, perbatasan kedua negara ini cukup macet…. bis penuh sesak, mana kita bawaannya 4 ransel pula hahaha….

Sesampainya di Singapore, membeli kartu EZ link dan siap eksplore deh…. berbekal peta rute jalur MRT kita menuju kawasan Llittle India, lokasi hotel kita ada di sekitaran situ (Selegie Road). Setelah titip ransel (belum bisa check in), kita lanjutkan petualangan hari ini ke Merlion (MRT turun di City Hall).

Merlion yang kita kenal dengan patung singa nyembur air menjadi land mark Singapura yang wajib dikunjungi. Ini adalah taman yang bisa dimasuki tanpa perlu tiket masuk. Di sekeliling Merlion terdapat areal terbuka dan objek-objek kunjungan yang rindang. Terdapat taman Esplanade, air mancur, monumen perjuangan, dan aneka museum.

Di sisi lain terdapat bangunan Esplanade dengan bentuk seperti mata capung. Di sisi sebelahnya ada Flyer, dan tentunya hotel Marina Bay Sand dengan tiga pilar penyangga “perahu” (atau papan selancar?).

Duduk-duduk di sekeliling tempat ini bikin betah. Sayangnya, susah menemukan water tap di areal ini. Kalau mau beli sebotol air mineral, bersiaplah untuk merelakan uang S$2-3,5 (setara 20 ribu sampai 30 ribu) :D

Jangan lupa, nikmati es krim berlapis roti yang yummy banget! Cuman sedolar, bisa pilih aneka rasa …. Jadilah kami menikmati sore hari disini… #kapan ya Jakarta punya taman kayak gini?

lanjutannya …

Hlm 1 of 12512345102030...Last »