Apakah Biografi Harus Menulis Lengkap Gelap Terang Hidup Seseorang?

Penulis Biografi
Penulis Biografi

Ada masanya saya menulis biografi tanpa sedikit pun suara dari istri, anak, apalagi menantu si sosok. Keberadaan mereka entah dimana. Bahkan mengunjungi rumah beliau pun tak ada akses.

Kali berbeda, saya menulis biografi dengan sumber utama kisah dari istri dan anak-anaknya.

Kali lain, saya menulis biografi dengan jadwal padat untuk mendengar kisah dari istri, anak, dan menantu-menantunya.

Demikianlah. Selalu ada keunikan bahkan misteri dari sebuah biografi.

Membenarkan keyakinan saya bahwa manusia itu seperti rembulan, selalu ada naluri untuk hanya menampilkan sisi terangnya dan menyembunyikan sisi gelapnya selama mungkin …..

Pertanyaan besarnya: apakah sebuah biografi memang harus melibatkan semua pihak? Harus menuliskan kisah hidupnya secara lengkap termasuk sisi gelap dan terang si sosok?

TIDAK. Itu jawaban saya selaku penulis biografi.

Ada aneka rupa buku biografi. Paling utuh adalah buku biografi yang kita kenal selama ini. Ia memuat deretan kisah seperti mistar ukur. Dari kehidupan yang nol alias masa kelahiran hingga titik ujung hidup si sosok. Bila dia sudah almarhum tentu saja buku berkisah sampai titik kematiannya. Bila masih sehat maka puncaknya adalah saat buku ditulis.

Ada juga memoar.  Si sosok lebih suka sepenggal kisah hidupnya saja yang diangkat sebagai kisah inspiratif. Mungkin, itu adalah kisah beliau saat menjadi seorang pejabat, berpangkat tertentu, atau kisah dirinya saat sudah hijrah ke kehidupan yang baru. Ada juga sosok yang ingin menceritakan kehidupan pasca masuk MLM dan sukses di sana, ketika dirinya menjadi dokter di pedalaman dengan sejuta jatuh bangun. Jadi, memoar adalah biografi yang berfokus kepada satu fragmen hidup saja.

Pilihan format biografi ketiga adalah buku kenangan. Mau mengenang 25 tahun masa-masa perkawinan? Oke saja untuk ditulis. Mengenang almarhum ayah yang meninggal lima tahun lalu? Atau mengenang si baby semenjak lahir hingga lepas dari julukan si balita? Tentu sah untuk ditulis.

Maka, kisah di dalam biografi memang tak harus utuh. Tak harus lengkap. Dan, tak harus mewawancarai semua orang secara membabi buta. Penulis biografi profesional tahu jurusnya. 🙂

 

Komentar Anda?
%d bloggers like this: