Bagaimana Saya Menyusun Kisah “Kehidupan” HaloBCA, UNG, dan ASABRI?

Menyenangkan ketika saya mendapat kepercayaan untuk menulis memoar dan biografi. Menjadi unik ketika kisah “hidup” itu berfokus pada korporatnya. Sebelumnya, saya lebih banyak menulis kisah orang per orang–terbanyak adalah sahabat difabel dan sahabat yang terstigma semisal ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Hartini Memoar seorang perempuan dengan HIV
buku memoar ODHA kerjasama penerbit buku kompas dan Andy F. Noya

Buku Journey to Find Happiness in HaloBCA adalah salah satu buku yang saya susun untuk korporasi. Buku ini dihasilkan dari belasan kali wawancara yang melibatkan Armand Hartono selaku Deputy President Director of BCA Tbk, Wani Sabu selaku executive Vice President of BCA Tbk, dan tim HaloBCA dari berbagai bidang.

Proses drafting buku Journey to Find Happiness in HaloBCA sekitar tiga bulan dari rencana awal selama dua bulan. Jika dirunut, dinamika penulisan buku biografi korporat akan terasa dalam tahap:

  1. Menentukan point of view kisah: buku ini akan memakai pendekatan orang ketiga–saya kisahkan perjalanan korporat dengan menyebut peran tokoh di dalamnya satu persatu–ataukah menggunakan point of view orang pertama dimana satu tokoh sentral mewakili tokoh aku? Di dalam buku Journey to Find Happiness in HaloBCA, sosok Wani Sabu menjadi tokoh yang menggerakkan cerita dari awal hingga akhir.
  2. Memilih dan memilah sosok yang perlu di-highlight: Dalam sesi wawancara, banyak nama bisa muncul dalam “kehidupan” sebuah korporat. Namun demikian, proses review draft  akan menjadi penting untuk dilakukan. Pihak korporat paling tahu kadar dan proporsi dari tiap-tiap tokoh untuk ditonjolkan. Penulis perlu membuka diri untuk mereview tulisannya.
  3. Menentukan narasumber yang kompeten untuk berkisah: Narasumber terbaik tentu pelaku sejarah itu. Dalam buku Journey to Find Happiness in HaloBCA, Wani Sabu adalah sosok yang paling paham mengenai satu dekade HaloBCA dengan perubahan-perubahannya yang signifikan. Sebagian besar konten buku diturunkan melalui wawancara pertama dengan beliau. Berlanjut dengan tambahan sudut pandang dari Presdir. Lantas pendalaman konten dengan melibatkan tim HaloBCA yang kompeten.
  4. Memilah data dan informasi yang bisa di-share dan yang perlu disembunyikan. Ini pasti terjadi. Termasuk di dalam buku ASABRI dan UNG pun demikian. Ada data-data perusahaan yang tidak dapat di-share. Termasuk di dalamnya adalah angka-angka penting milik perusahaan. Buku Journey to Find Happiness in HaloBCA telah memilah itu semua dan melalui screening yang ketat oleh tim HaloBCA. Biarpun demikian, HaloBCA adalah institusi yang terbuka terhadap pertanyaan dari luar yang ingin belajar dari perusahaan contact center terbaik di dunia ini.
  5. Perhatikan istilah. Nah, satu sejarah panjang sebuah korporat tentu punya sejarah pengubahan nama-nama di dalam perusahaannya. Contoh simpel di dalam pemerintahan RI. Kita mengenal istilah departemen yang kemudian berubah menjadi kementerian. Demikian pula di ASABRI misalnya, nama-nama divisi dan bidang kemungkinan besar mengalami perubahan dalam rentang waktu. Khusus untuk isi buku Journey to Find Happiness in HaloBCA, penulis wajib mencermati kapan harus menggunakan istilah call center, contact center, atau center of digital.

Menghidupkan Cerita

 Menulis “kehidupan” korporat tentu punya tantangan. Saya seperti harus menghidupkan, menghembuskan nyawa, mencari metafora, bahkan menelisik senang susah si korporat dalam rentang waktu tertentu. Alberthine Endah menulis dengan sangat baik perjalanan Blue Bird. Pun halnya penulis-penulis lain telah berusaha sama kerasnya untuk menulis kisah-kisah korporat. Seperti halnya Rhenald Khasali menulis tentang Garuda.

 Sebagai contoh, dalam buku Journey to Find Happiness in HaloBCA awalnya saya menggunakan tokoh tambahan sebagai pencerita. Di dalamnya, si tokoh animatif ini seperti menjadi dalang dalam cerita. Dalam tahap revisi, tokoh ini dihilangkan dan gaya berkisah dileburkan ke dalam sosok riil. Intinya, tambahkan emosi-emosi di dalam cerita meskipun ini adalah biografi korporat.

 Sama halnya menulis kisah orang per orang, dalam teori dan praktik penulisan biografi saya selalu memulai dengan menemukan titik nol. Itulah titik balik seseorang. Satu waktu dimana orang itu berubah dengan dramatis dikarenakan peristiwa tertentu, atau pertemuan dengan orang tertentu, atau kesadaran diri yang mendadak. Termasuk pertemuan dengan Tuhannya.

Dari titik balik inilah kisah mulai saya tuliskan. Titik balik menjadi porsi besar dalam buku karena inilah masa-masa yang paling diingat oleh narasumber. Ketika titik balik sudah kita tuliskan, saya akan mundur ke masa-masa negatif–saya mengandaikan ini seperti garis bilangan. Masa-masa negatif adalah keadaan sebelum titik balik itu terjadi. Bisa jadi itu masa buruk, masa tidak ada keteraturan, waktu yang mungkin jadi kenangan buruk.

 Titik balik HaloBCA di dalam buku Journey to Find Happiness in HaloBCA terjadi ketika Wani Sabu mendapat mandat untuk memimpin call center itu. Dikisahkan, bahkan Wani Sabu pun tidak percaya mendapat posisi di tempat “buangan” itu. Kata buangan mewakili kondisi SDM di call center BCA saat itu yang menjadi tempat kumpulnya orang-orang dengan kompetensi dan semangat kerja rendah.

  Kisah lantas bergerak dengan menceritakan penerimaan Wani Sabu untuk tugas barunya. Perubahan-perubahan manajemen, SDM, dan proses bisnis dilakukan oleh sosok wanita visioner ini. Di bagian lain dari buku Journey to Find Happiness in HaloBCA juga dikisahkan bagaimana HaloBCA melakukan bencmarking ke perusahaan kelas dunia lainnya.

Hasil dari perubahan itu terlihat dengan prestasi HaloBCA menjadi contact center dunia terbaik.

 Melengkapi Cerita

 Jika titik balik sudah tertulis, lantas apa lagi yang perlu ditulis? Nah, setelah titik balik dan masa negatif tertuliskan, saatnya mengurai masa-masa positif, yakni perubahan dramatis yang terjadi usai kejadian titik balik.

 [metode penulisan biografi ala Anang YB ini dapat Anda pelajari gratis di channel Youtube saya. Search saja channel “Anang YB”]

Lantas bagaimana menerapkan metode itu untuk “biografi” korporat?

Tak susah. Semisal untuk Journey to Find Happiness in HaloBCA kisah HaloBCA itu, saya mengulik masa-masa ketika call center ini belum terjamah manajemen baru. Ruangan yang mirip sekat-sekat di wartel, agen call center yang menjawab panggilan dengan style masing-masing, juga orang-orang di dalamnya yang sebagian adalah “vampire”.

Pun halnya dengan kampus Universitas Negeri Gorontalo. Saya bersorak (dalam hati) ketika wawancara awal menemukan satu titik balik yang sangat baik. Masa lalu kampus itu yang rusuh, mahasiswa gemar tawuran, bahkan sampai membakar kampus terpandang di Gorontalo itu.

 Rada susah ketika saya menuliskan ASABRI. Perusahaan asuransi sosial plat merah ini tidak mempunyai masa lalu yang kelam. Tapi dalang ndak boleh kehilangan lakon kan? Saya pun mengulik dan menemukan masa-masa susah perusahaan ini ketika regulasi belum berpihak padanya. ASABRI seolah anak tiri dan TASPEN sebagai anak kandung pemerintah.

Begitulah, menulis kisah korporat menuntut saya untuk belajar banyak sekali. Tentang teknologi call center, tentang regulasi perusahaan asuransi, dan tentang leadership dari setumpuk buku John C. Maxwell, dll. Tapi, saya mendapat pencerahan yang luar biasa meski untuk itu uban saya pertumbuhannya seperti dipercepat. Risiko penulis.

Berharap ke depan masih ada kepercayaan yang mendatangi saya untuk menulis kisah-kisah “kehidupan” korporat lainnya. Masih dalam proses, penulisan biografi pengusaha kayu di Kalimantan. Sosok yang pernah menjadi buron karena disangka pelaku illegal logging.

 Asyik kan kerja jadi penulis biografi. Hahaha ….

Komentar Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *