Membuat Buku Biografi Tanpa Klien

Seperti apa gaya tulismu saat menjadi penulis biografi? Nggak usah dijawab. Ini sekadar pertanyaan retoris kok. Gaya tulis adalah penciri dan pembeda dirimu dengan pemberi jasa menulis biografi lainnya. Meskipun, sebenarnya seorang penulis biografi profesional patut untuk menguasai banyak gaya menulis. Tapi itu kita bahas di artikel lainnya ya.

jasa menulis biografi
penulis biografi indonesia
sumber pixabay.com

Problem besar para penulis biografi pemula adalah mendapatkan job. Jagad penulisan biografi memang luas tapi tidak semua pendatang dan pemain tahu rimbanya. Wajarlah bila ada saja pemberi jasa penulisan biografi sudah merasa beruntung kalau dalam setahun hanya dapat 1 job menulis.

Serius? Iya lah. Lha penulis besar pun mengalami juga sebenarnya. Kenapa susah dapat job? Salah satunya karena miskin portofolio.

Boro-boro punya portofolio, lha jasa menulis biografinya saja baru dibuka bulan lalu. Jelas belum ada klien kan.

Tapi bisa diakali kok.

Serius kok? Bukan njiplak dong. Tapi, pakailah blog kayak gini. Kamu bisa menulis biografi tanpa klien. Caranya adalah dengan memuat tulisan-tulisan kisah sukses dan kisah hidup publik figur.  Entah itu kisah hidup para pahlawan, pengusaha, atau tokoh inernasional seperti Jack Ma, Mandella, Mother Teresa, Gandhi, dll.

Tip Menulis Sosok di Blog

  1. Bidiklah satu nama, misalnya Ignatius Jonan atau Mister Jokowi.
  2. Lakukan riset di internet. Buka situs berita ternama kumpulkan kisah hidup dan kisah sukses dia.
  3. Buka juga wikipedia dengan kata kunci nama dia.
  4. Jika tokohmu pernah dibukukan, cari bukunya di internet setidaknya sinopsis di toko buku online dan di books.google.com
  5. Baca semua dan temukan angle yang pas ala kamu.
  6. Mulailah menulis. Kamu bisa menyadur alias menulis ulang bacaanmu dengan kata-katamu sendiri.
  7. Berusahalan menulis panjang. Boleh 600-1000 kata.
  8. Posting di blog dengan menyertakan sumber bacaanmu
  9. Ulangi untuk tokoh lainnya.

Keuntungan Menulis Sosok di Blog

  1. Sudah pasti, kamu punya portofolio. Makin banyak kamu menulis artikel semacam itu makin keren “kekayaan intelektual”mu
  2. Kamu terlatih untuk melakukan riset, filtering data, pengolahan data, verifikasi data, dan mengisahkan data.
  3. Kamu paham apa itu sudut cerita. Kamu juga terlatih untuk memilih opening cerita, jembatan antar-fakta, dan pemilihan kata.
  4. Kamu juga bisa sesukanya bercerita. Lain soal ketika kamu membuka jasa penulis biografi sebab di situ kamu akan disetir oleh klien.
  5. Kamu dapat memilih gaya tulisan roman biografi, novel biografi, atau apa pun. Lagi-lagi, ini saat terbaikmu. Nanti saat kamu dibayar klien, kamu tidak bisa sesukanya memilih gaya tulisan
  6. Dengan memiliki banyak gaya tutur maka kamu mudah untuk pamer pada calon klien nantinya. Mister mau model yang mana nih? Begitu gayamu nanti saat membuka penawaran.
  7. Mata batin kamu akan lebih terbuka. Kamu bisa menemukan banyak “mutiara kehidupan” dari tokoh yang kamu tulis.
  8. Otomatis kamu akan menjadi pembaca dengan banyak riset dan menulis.
  9. Blog-mu makin populer. Sebab, anak-anak sekolah getol banget browsing kisah-kisah pahlawan dan publik figur di internet.
  10. Kamu bisa membukukan kumpulan kisah para sosok itu kalau kamu cerdik. Misalnya: 20 Sosok Muslim Paling Berpengaruh di Indonesia, 30 Wanita Hebat Sepanjang Abad 20, Kumpulan Kisah Pahlawan Masa Kemerdekaan, dst.

Nah, apakah yang saya tulis ini belum terpikirkan olehmu? Tulislah. Jadilah pemberi jasa menulis biografi yang tidak sekadar mengejar uang tapi juga mampu mengejar portofolio dengan cekatan.

Jika tulisan ini membuka wawasanmu, kasih komentar ya. Biar saya ngerti kalau kamu sudah mampir dan baca tulisan ringan ini. Salam sukses buat kamu!

5 Keterampilan Penulis Biografi

Mendadak pingin banget buka jasa penulis biografi? Nah, Kamu wajib punya standar minimal sebelum nyebur ke ceruk pasar unik ini. Saya bilang unik karena buku biografi tak banyak diminati penerbit, tak banyak tempat di toko buku, dan tak banyak dibeli orang. Tapi justru itulah, persaingan antar-penulis biografi tak begitu terasa. Setiap pemilik jasa menulis biografi seolah sudah dapat jatah rezeki masing-masing. *atau nggak? Hahaha …..

jasa penulis biografi sumber: pixabay.com

Keterampilan apa dong yang wajib dimiliki seorang penulis biografi? Saya kasih tahu sesuai pengalaman riil yang saya alami ya.

Pertama, kamu sudah final dengan kemampuan menulis fiksi dan nonfiksi. Maksudnya? Ya, sebab menulis biografi adalah gabungan antara membuat tulisan faktual (nonfiksi) dengan gaya tutur ala naskah fiksi. Kalau belum bisa? No problemo. Saya sarankan kamu untuk mulai menulis kisah-kisah pendek. Tuliskan saja sosok orang di sekitarmu dalam bentuk cerita 3 halaman saja. Atau, buatlah cerita kisah hidup pahlawan atau tokoh manapun sepanjang 3 halaman. Entah itu Kartini, Anies Baswedan, Ahok, Gubernur Aher, Mandela, Oprah, atau kakekmu juga oke.  Latihan ini penting untuk dua alasan. Pertama, kamu mengasah kemampuan mengolah data dan informasi menjadi cerita naratif. Kedua, kalau itu kamu pasang di blog akan menjadi portofolio saat mulai mendekati calon klien. Tunjukkan tulisan-tulisan itu agar calon klien tahu style gaya tuturmu.

Kedua, pemberi jasa menulis biografi sudah final dengan kemampuan menyunting naskah. Lho bukannya penulis dan penyunting itu beda profesi? Iya sih. Tapi bayangkan bila kamu sudah bisa menulis zero mistake (meski itu nyaris tak mungkin) untuk ejaan ya. Pasti akan lancar dan proses menulis lebih cepat. Ingat, bahkan tanpa mengoreksi kesalahan ejaan pun proses membuat buku biografi sudah memakan waktu lama. Kalau masih ketambahan dengan kegiatan mengoreksi maka bakal lebih molor lagi. Saran saya, selain kamu messti mampu menyunting juga wajibkan diri kamu memaksimalkan tools di dalam program Words. Ada autocorrect, ada setting cek grammar, dan trik-trik find-replace untuk menyunting kata yang wajib kamu tahu juga.

Ketiga, seorang penulis biografi profesional juga sudah final dengan kemampuan wawancara. Kalau tidak, maka dia akan banyak membuang waktu. Kenapa? Sebab seringkali proses wawancara menjadi tidak tepat waktu sesuai sekedul. Harusnya cukup 5 kali malah jadi 10 kali. Harusnya 2 jam wawancara dapat 30 halaman naskah ini malah ngalor ngidul tak bisa dipakai hasil wawancaranya. Pandai-pandailah menyetir narasumber saat beliau menjawab. Jangan berpikir bahwa menggali cerita sedalam-dalamnya identik dengan membiarkan narasumber bercerita sebebasnya. Pakailah outline sehingga konkret apa target hasil wawancara hari ini dan untuk berapa halaman satu sesi wawancara itu dilakukan.

Keempat, kamu juga paham cara menghadapi orang. Sukur-sukur kamu paham psikologi komunikasi.  Kenapa? Karena membongkar kisah hidup melalui wawancara adalah sesuatu yang berat. Dilan aja belum tentu sanggup. Halaah! Kamu mesti mengulik tak cuma kapan, siapa, dimana, dan apa. Namun juga why dan how. Berani kamu tanya “Mengapa Bapak bercerai?” atau “Bagaimana cara Bapak menghadapi rongrongan aparat saat Bapak berbisnis?” Itu pertanyaan sensitif tapi wajib kamu tanya. Sebab, buku biografi akan penuh makna dan menguras air mata ketika penuh denagn jawaban atas pertanyaan WHY dan HOW.

Kelima, kamu sudah final juga untuk urusan manajemen proyek. Sebab menulis biografi adalah sebuah bisnis. Bukan sekadar mengerjakan 100 halaman novel yang bisa kamu jalani tanpa banyak pernak-pernik urusan. Jasa menulis biografi adalah sebuat rentetan proses yang ribet bahkan sebelum kamu nulis. Ada proses promosi diri, pedekate dengan calon klien, pembuatan kontrak (ini juga tidak selalu langsung klop), wawancara perdana, pembuatan outline, penentuan point of view, pemilihan dan penetapan jumlah narasumber, biaya operasional, dan tentunya negosiasi tarif penulis biografi yang harus kamu patok. Hanya itu? Tentu tidak. Kamu harus mulai menulis, menghadapi keinginan klien dan narasumber yang macam-macam, menentukan tata waktu, tata pembayaran, menagih pembayaran, bahkan sampai kepada urusan mencari penerbit dan mempublikasikan naskah itu sebaik mungkin.

Berat? Enggak lah. Pengalaman akan membuat kita matang dan profesional. Saya pun butuh waktu tidak sebentar sampai berada pada level sekarang.

So, kontak saya bila ingin belajar menjadi penulis biografi profesional. Saya sesekali mengakan mentoring jurus membuka jasa penulis biografi secara online. Pantengin saja akun Facebook saya ya.

Siapa Saja Klien Penulis Biografi Indonesia?

Awalnya saya tidak tertarik membeli buku biografi. Nah, kalau sekarang saya “terjerumus” untuk memberikan jasa menulis biografi tokoh dan sosok nasional, itu ada sejarahnya.

jasa ghostwriter dan penulis biografi WA 08159904562

Menjadi penulis pun sebuah misteri apalagi sampai menjadi seorang penulis biografi. Buku kisah sosok terkenal yang saya buat pertama kali sangat tipis. Mungkin hanya 60-an halaman. Buku itu berkisah tentang Santo Arnoldus Janssen seorang pendiri ordo gereja. Sampai sekarang royaltinya masih terus saya terima meski tidak banyak.

Menulis buku biografi berikutnya–lagi-lagi sosok yang sudah meninggal. Saya menulis kisah inspiratif Si Calvin seorang bocah yang seumur hidupnya berada di atas kursi roda karena penyakit Osteogenesis Imperfekta. Saat buku biografi difabel itu saya buat, Calvin sudah meninggal. Saya melakukan wawancara dengan kedua orangtuanya. Berapa saya mematok tarif menulis biografi buku itu? Saya tidak minta bayaran. Kisah itu saya tulis karena kedekatan narasumber dengan istri saya. Sebagai tanda kasih, orangtua Calvin memberikan dua set Blackberry usai buku itu terbit, hahaha ….

Saya mematok biaya menulis biografi ketika klien memang mempunyai kemampuan untuk membayar dan akan menggunakan buku itu untuk keperluan atau branding. Ini memang pekerjaan profesional. Sebagai contoh, buku Hartini Memoar Seorang Perempuan dengan HIV saya tulis atas pesanan Andy F. Noya melalui Penerbit Buku Kompas. Buku itu saya kerjakan dengan kesepakatan biaya menulis biografi yang sudah ditetapkan di awal.  Ada juga buku tentang pengusaha kayu di Banjarmasin, buku biografi pengusaha santan di Sumatera, biografi para pebisnis online, juga yang terakhir buku perjalanan HaloBCA yang akan terbit Mei 2018 ini.

Pada ujungnya, jasa menulis biografi memang tak lagi sekadar menulis hidup seseorang sejak lahir hingga meninggal. Meskipun arti biografi adalah kisah hidup seseorang sejak lahir hingga mati lengkap dengan segala jasa dan jatuh bangun dia. Namun, semakin ke sini saya semakin sadar kebutuhan klien tidak lagi sebatas itu.

Jadi, siapa saja yang membutuhkan jasa menulis biografi dan dapat saya bantu? Ini beberapa di antaranya.

  • Keluarga (biasanya anak-anaknya) yang ingin membuat buku kenangan hidup dari ayah atau ibunya.
  • Perusahaan yang ingin mendokumentasikan kisah kepemimpinan dan best practise dari karyawan senior
  • Seseorang yang ingin membukukan perjalanan membangun bisnis sejak rintisan, jatuh bangun, hingga sukses
  • Kampus yang ingin mendokumentasikan sejarah dan perjuangan rektornya
  • Difabel dan survivor dengan perjuangan hidup
  • Perusahaan yang ingin mendokumentasikan perjalanan perusahaannya.
  • Pendeta, ustaz, dan tokoh agama dengan banyak kisah hidupnya yang luar biasa
  • Motivator dan pembicara publik yang memerlukan buku kumpulan kisah inspiratif tokoh-tokoh dunia untuk mengangkat personal branding dia.

Tentu saja tiap klien akan berbeda maunya. Beda pula lama waktu pengerjaannya. Ketika saya menulis buku biografi Rektor Universitas Negeri Gorontalo, butuh waktu satu tahun sampai kemudian naskah itu final. Sedangkan buku perjalanan satu dekade HaloBCA saya tulis dalam tempo 3 bulan saja. Ada lagi kisah sahabat difabel yang selesai dalam tentang waktu 4 bulan. Kalau dirata-rata, sebuah buku biografi memang bisa selesai dalam tempo setengah tahun.

Memberikan jasa menulis biografi memang mesti telaten. Karena itu, kalau Anda mencari penulis biografi, burulah orang yang sabar dan suka akan detail. Sukur-sukur penulis profesional itu sudah memiliki pengalaman memadai dalam proses menulis buku biografi.

Ketelatenan penulis biografi akan tercermin dengan detail setting waktu dan setting lokasi yang dia tuturkan. Buku biografi yang baik juga memiliki alur dan plot yang menarik. Apakah kisah hidup semua orang pasti punya plot yang seru? Tentu tidak. Banyak yang datar dan linier. Dari situlah profesionalitas penulis biografi diuji. Dia harus mampu menggali kisah sampai kedalaman tertentu hingga menemukan “mutiara hidup” dari kisah si narasumber.

Para pemakai jasa menulis biografi pada ujungnya memang harus maklum bila pekerjaan ini membutuhkan biaya puluhan juta. Sebagai ilustrasi saja, tarif wajar wawancara seorang jurnalis di Jakarta selama 2 jam sekitar 2,5 juta. Hitung saja untuk sebuah buku biografi diperlukan 10 sesi wawancara maka untuk proses penggalian data sudah menguras biaya 25 juta. Belum lagi untuk proses riset, penulisan, editing, dan biaya mobilitas dan komunikasi.

Jadi berapa kisaran uang yang harus disiapkan untuk membuat sebuah buku biografi? Untuk jasa profesional, Anda akan menemukan penawaran-penawaran dengan rentang yang lumayan lebar. Beberapa proyek menulis biografi yang sudah deal dengan saya berbiaya mulai dari 20 juta hingga 80 juta. Di luar saya, ada penulis biografi yang masih mau pasang tarif belasan juta saja bahkan kurang dari 10 juta. Namun jangan kaget kalau tarif penulis biografi lainnya bermain di angka 100  juta hingga 300 juta bahkan lebih. Entah apa reason-nya dengan angka biaya menulis buku biografi setinggi itu.

So, rekamlah kisah hidup Anda dan keluarga Anda. Biaya yang Anda keluarkan akan sebanding dengan mutiara hidup yang akan Anda terima.

Jasa Ghostwriter Indonesia Murah atau Mahal?

Entah tarif saya pas atau tidak, tapi sejauh ini jarang calon klien ghostwriter saya kabur karena faktor harga. Dengan kata lain tarif jasa ghostwriter yang saya patok tampaknya nyaman saja untuk kantong mereka.

ghostwriter murah adakah
ghostwriter murah adakah

sumber: pixabay.com

Saya mengawali jasa ghostwriter murah saja. Sepuluh tahun lalu, untuk satu naskah dengan ketebalan umumnya buku nonfiksi saya patok dengan tarif ghostwriter sebesar 25 juta rupiah. Dengan proses pengerjaan sekitar dua bulan maka saya “menggaji” diri saya sebesar 10 jutaan sebulan. Asumsinya 5 juta hilang untuk ongkos produksi.

Kini, tentu saja tarif jasa ghostwriter saya sudah menyesuaikan dengan kompetensi, luasan relasi dengan penerbit dan percetakan, dan deretan pengalaman menulis saya. Meski tentu saja belum sampai dua kali lipat dari angka awal saya berprofesi sebagai seorang pemberi jasa ghostwriting di Indonesia. Kenapa? Karena kebutuhan hidup saya belum sampai dua kali lipatnya, hahaha …..

Di luaran, saya tahu ada banyak jasa ghostwriter Indonesia murah. Oke, silakan. Mungkin mereka adalah pindahan dari para penulis naskah pesanan penerbit. Setahu saya, ada jurang menganga yang mencerminkan kesenjangan tarif penulis naskah pesanan penerbit dengan penulis yang mendaku sebagai pemberi jasa Ghostwriter.

Penulis naskah pesanan penerbit–saya pun masih mau mengerjakan naskah denagn model demikian–memang dibayar murah. Itu pun mereka tidak berhak atas royalti. Bisa jadi mereka dibayar 5 jutaan per naskah untuk menghasilkan buku dengan ketebalan 160-an halaman.

Coba kita bandingkan dengan tarif Ghostwriter di Indonesia. Mereka bisa mematok bayaran 3-10 kali lipat dari angka itu. Bahkan ada yang lebih.

Tarif jasa ghostwriter murah memang dimainkan oleh rekan-rekan ghostwriter pendatang baru. Ada yang oke dengan bayaran 10 jutaan atau belasan juta saja. Entah bagaimana mereka mengelola uang itu untuk kegiatan wawancara, tranasportasi menemui klien, biaya nulis, editing, transkrip, biaya telepon, dll.

“Oh, semua saya kerjakan sendiri,” bisa jadi begitu jawaban para ghostwriter itu. Iya, saya pun demikian. Semua saya kerjakan sendiri dalam batas tertentu. Dalam perkembangannya, saya akhirnya memanfaatkan kemitraan dan kolaborasi untuk pekerjaan-pekerjaan teknis seperti menangani file wawancara dan melakukan editing serta layout. Toh kita juga sadar, tidak semua hal teknis bisa kita kuasai sama baiknya.

Dari situlah kita bisa memaklumi, bahwa tarif ghostwriter yang sekilas terlihat mahal sebetulnya tidak juga karena ada tim besar yang terlibat di dalam pembuatan naskah itu.

Ghostwriter murah belum tentu buruk. Lagi-lagi contohnya saya. Tidak semua klien ghostwriting saya datang dengan kemampuan finansial yang cukup.

Ada klien yang saya tempatkan sangat istimewa dalam pembayaran. Mungkin, dari mereka saya dicap sebagai ghoswriter murah karena pasang harga nyaris gratis. Kalau saya mau, saya akan gratiskan dengan banyak pertimbangan.

Kadang, ada klien yang memesan naskah untuk satu paket, semisal satu tahun hendak membuat 3 buku sekaligus. Maka tarif jasa ghostwriter bisa model paket hemat.

Sebaliknya, klien dengan keinginan menjadikan buku yang kami garap untuk tujuan komersial–langsung maupun tidak langsung–tentu akan mendorong saya untuk melakukan kalkulasi ekonomi juga.

Termasuk di dalam kelompok ini adalah klien istimewa saya yang memanfaatkan buku itu untuk pelatihan, seminar, mem-branding diri, dan sebangsa itu. Untuk mereka, tarif ghostwriter Indonesia akan berlaku standar alias tidak didiskon.

Memilih Ghostwriter Indonesia Terbaik

Jadi, mana yang mau Anda pilih? Ghostwriter murah atau mahal? Mari saya ajari dan bantu untuk memutuskan:

Pertama, pertimbangkan memilih ghostwriter terbaik dengan domisili tak jauh dari Anda. Setidaknya bisa Anda jangkau dalam satu kota. Biaya Anda akan lebih murah dan komunikasi tatap muka juga mudah Anda lakukan.

Bila itu bukan pertimbangan penting–Anda yakin bisa berkomunikasi menggunakan telepon dan email–maka pertimbangkan hal kedua ini: portofolio. Anda akan nyaman menyerahkan uang belasan atau puluhan juta pada orang yang memang kompeten. Bukan penulis kemarin sore yang masih sekadar cari-cari pengalaman. Sebab sejatinya seorang ghostwriter terbaik sudah mengantongi pengalaman sebelum masuk ke wilayah ini. Ia tidak akan mengorbankan duit klien untuk belajar dan coba-coba.

Masih soal portofolio, anjuran ketiga saya adalah si pemberi jasa ghostwriter ini memang memiliki pengalaman yang sesuai dengan naskah yang Anda inginkan. Semisal Anda ingin membuat buku kesehatan, carilah seorang ghostwriter terbaik yang memang pernah membuat buku kesehatan. Mau bikin buku tentang bisnis dan ekonomi? Carilah ghostwriter dengan pengalaman menyusun buku tema itu. Demikian pula saat Anda mencari ghostwriter novel, carilah penuli novel dan bukannya penulis nonfiksi. Saya sendiri sudah menulis 50-an naskah buku dan terbit di penerbit umum kelas nasional. Hal ini sudah menjadi alasan penting mengapa portofolio saya sudah lumayan “kaya”.

Keempat, pastikan si ghostwriter adalah penulis profesional dan full time. Anda terasa konyol bila memilih jasa ghostwriter (meskipun) murah namun pengerjaannya menunggu akhir pekan atau saat sudah pulang ngantor. Dengan kemampuan menulis 5 halaman per hari (ini kemampuan standar bahkan minimal) maka sebuah naskah butuh waktu paling tidak 4 minggu untuk selesai dikerjakan secara full time, bukan sambilan.

Dan, pertimbangan kelima adalah bahwa tarif ghostwriter mahal harusnya tidak bohong dengan hasilnya. Uang empat puluh juta tidaklah besar ketika Anda berhitung potensi royalti yang akan Anda terima dari penjualan 10.000 buku Anda seharga 70 ribuan. Seolah Anda tidak keluar duit apa-apa untuk membayar jasa ghoswriter. Alih-alih mahal, bahkan Anda pun akan mengatakan bahwa Ohh … tarif ghostwriter murah itu ya ke tempat www.ghostwriterindonesia.com karena pasti lolos di Gramedia publisher dan bestseller … Ah, ngiklan!

Penulis dan Editor Wajib Sertifikasi dan Uji Kompetensi: Mau Nolak?

Wuih, saya nemu foto teman lama saya sedang bawa poster seperti sedang piknik di pantai. Bedanya, ini dia sedang serius mejeng di poster bertuliskan urusan asesor dan uji kompetensi tenaga (ahli) geomatika.

Jasa penulisan buku & artikel
foto: pixabay.com

Saya jadi ingat diskusi di akun Facebook saya  yang pro-kontra soal penulis dan editor wajib memiliki sertifikat hasil uji kompetensi. . Saling lempat komentar itu seru-seru lucu dan tidak saru.

Saya yang sarjana geografi dulunya memang bergelut dengan urusan geomatika. Ikut tender dan menjadi tenaga ahli di berbagai proyek survei dan pemetaan. Apakah dulu (dan sekarang) hanya pekerja profesional geomatika bersertifikat yang dapat job? Tampaknya tidak juga. Tanpa sertifikat pun kerjaan masih akan datang meski di beberapa channel akan tertutup. Misalnya pada proyek dengan dana pemerintah. Apalagi bagi mereka yang yakin kalau urusan rizki ada di tangan Tuhan semata-mata.

Melacak keberadaan LSP Geomatika ternyata sudah berdiri 2004, artinya sudah 14 tahun ada dan proses sosialisasi masih terus jalan. Bandingkan dengan LSP Penulis dan Editor yang baru seumur jagung karena pengesahan undang-undangnya juga masih “kemarin sore”.

Saya pun tidak memegang sertifikat Geomatika bahkan sampai saya murtad jadi penulis.

Eh, sebetulnya saya mau ngomong apa?

Saya sekadar mau menegaskan bahwa pada akhirnya semua profesi para profesional akan menuju pada titik standardisasi. Penulis dan editor boleh saja (saat ini) menuliskan portofolio sepanjang cerpen atau novelet. Tapi, siapkah Anda bila cerita sukses dan hebat itu untuk dicek kebenarannya? Diminta buktikan melalui wawancara dan kegiatan verifikasi?

Saya kembali ingat ke masa 20 tahun lalu. Saya pun assesor alias penguji untuk para pemohon sertifikasi. Bedanya, saya adalah assesor PHPL (Pengelolaan Hutan Produksi Lestari). Simpelnya, saya bekerja untuk memverifikasi perusahaan-perusahaan perkayuan apakah sudah menerapkan Ekolabel atau belum. Saya keluar masuk masuk hutan, mendatangi perusahaan semacam itu di Kalimantan dan Sumatera termasuk eks Indorayon. Sangat melelahkan karena ada buanyaak dokumen harus kami cek dan crosscheck.

Saya nggak ngerti bagaimana uji kompetensi geomatika dan penulis editor bakal dilaksanakan. Tapi itulah keniscayaan yang saya bilang. Kalau memang oke dengan portofoliomu, ‘napa harus mengerutkan kening dengan proses sertifikasi?

Jadi, sekukuh apa pun Anda menolak atau nyinyir dengan program sertifikasi penulis dan editor, orang lain akan melakukannya. Anda mungkin bisa eksis dan dapat job juga. Bedanya Anda akan jadi orang beda.

Akhirnya, saya juga mau bilang, kompetensi–yang bakal diuji–adalah irisan dari tiga hal yang ada di dalam diri setiap pekerja profesional, yakni SKILL, KNOWLEDGE, dan ATTITUTE. Itu yang mau diuji.

Saya sih pede. Kamu?

Co-Publishing: Bikin Naskah dan Pasti Terbit

Bulan ini saya menyorongkan empat naskah dari empat penulis berbeda ke penerbit ngetop di Jakarta. Beda penulis dan juga beda temanya. Ada naskah kesehatan, ada biografi, ada buku bisnis, dan satu lagi buku tentang santri.

Buku itu pasti terbit. Kok bisa?

foto: pixabay.com

Selain soal penguasaan akan jalur dan jejaring, proses “pasti” terbit juga ditopang oleh hitung-hitungan bisnis.

Taruh kata Anda adalah:
– trainer atau motivator dengan jadwal workshop dan seminar yang sudah pasti dalam setahun,
– Anda adalah dosen dengan ratusan mahasiswa pengikut kuliah Anda,
– Anda adalah leader MLM dengan ratusan downline dan jadwal seminar beruntun dalam setahun ke depan,
– Anda adalah dokter yang ingin membuat dan membagikan buku saku kesehatan,
– Anda adalah politisi yang membutuhkan publikasi melalui buku,
– Anda berulang tahun dan ingin membagikan kisah hidup pada keluarga besar,
– Anda punya komunitas besar dan punya karya antologi,
– panjang dan banyak lah contoh lainnya
maka … peluang ini layak Anda ambil.

Kepastian terbit terjadi karena pola kerjasama co-publishing. Apa bedanya dengan menempuh jalur biasa atau cara sejuta umat?

Jalur biasa artinya Anda menyerahkan proses produksi pada si penerbit seluruhnya. Penerbit akan menimbang naskah Anda 2-3 bulan sebelum (kemungkinan terburuk) mereka akan bilang: maaf silakan coba lagi. Kemungkinan terbaik adalah Anda dipeluk editor penerbit yang menangis sambil berkata takjub: ini naskah luar biasa yang kami tunggu sejak seabad lalu. *lebay sih.

Jalur biasa membebankan semua biaya pada penerbit karena itu mereka hanya memilih naskah yang potensi laku dan habisnya besar dan cepat.

Lain soal dengan co-publishing. Pola co-publishing adalah seperti ilustrasi ini. Misalnya Anda dosen atau trainer atau leader MLM seperti saya bilang tadi, Anda sudah berhitung bisa turut menjual berapa buku dalam periode tertentu. Anda bantu penerbit untuk memproses buku itu lebih cepat. Saya beli 600 di awal sebab satu matakuliah saja ada 200 mahasiswa sedangkan saya mengampu 3 mata kuliah dalam satu semester. Itu misalnya.

Penerbit suka. Anda pun senang karena Anda akan lewat jalur tol. Proses penimbangan naskah tak perlu menunggu 3 bulan. Pengalaman saya, seminggu dua minggu saja Anda sudah dapat kepastian bukunya lolos atau tidak. Jarang sih tidak lolos kecuali buku Anda temanya aneh bin ajaib atau ada lambang palu arit di dalamnya.

Butuh biaya besar? Ada hitungannya yang bisa Anda kalkulasi sekarang. Tapi keuntungan juga ada dan besar. Sebuah buku bisa memberikan keuntungan jutaan rupiah ke kantong Anda dalam tempo cepat tanpa menunggu enam bulan layaknya menanti royalty. Taruh kata Anda membuat satu buku yang dibeli oleh 500 mahasiswa Anda maka potensi duit untuk Anda sekitar 40% dari harga eceran buku. Angka itu berasal dari 30% diskon dan 10% royalty. Beda penerbit memang beda angka tapi kisaran sebesar itulah. Menggiurkan, bukan?

Keuntungan lain apa? Kredibilitas, dong. Naskah Anda akan menjadi buku dengan nama penerbit beneran bahkan penerbit besar kalau saya bantu. Buku Anda akan ber-ISBN resmi bukan abal-abal. Kalau Anda pendidik, buku Anda akan menaikkan nilai poin Anda. Kalau Anda trainer dan motivator, logo penerbit besar Akan mengasosiasikan Anda sebesar dan seterkenal penerbit itu.

Berita baiknya, saya siap bantu Anda untuk proses co-publishing. Dan, free karena itu menjadi bonus untuk Anda yang memakai jasa-jasa saya.

Bikin buku dan menerbitkan buku memang simpel kok. Boleh kontak saya kalau tergoda.

www.haloghostwriter.com
WA 08159904562

Writing Tresna Jalaran Seka Kulina

Saya suka menulis,karena pada dasarnya saya pemalu (*yang ga percaya silakan simpan dulu rasa ketidakpercayaan Anda), jadi menulis merupakan sarana saya mencurahkan isi hati dan perasaan. Menulis bagi saja memiliki efek terapetik. Membantu saya menyalurkan perasaan-perasaan yang tak tersampaikan, omelan saya yang cuma di awang-awang, gemes saya sama penampilan orang, rasa pengen saya akan sesuatu yang belum kesampaian dan masih banyak lagi.


Saya bisa menulis tentang si Anu yang tertuang menjadi tokoh dengan nama yang sesuka hati saya bisa saya ganti. Saya bisa menulis pengalaman saya tanpa harus menunggu ada orang lain mau mendengarkan cerita saya. Dengan tulisan, saya tidak harus memaksa orang untuk mendengarkan curhat saya, karena yang mau pasti akan membacanya yang tidak mau dan tidak suka, tidak perlu membacanya, gitu aja kok repoot?

Pelajaran bahasa Indonesia di bangku sekolah banyak mengajarkan saya tentang menulis, dari membuat kerangka karangan dan mengembangkannya menjadi kalimat inti dan kalimat pembantu. Tapi sepertinya saya lebih menikmati jadi “free styler” , yang penting nulis dulu – nanti baru di-edit. Denga gaya ini memang proses menulis saya lancar tetapi kadang cenderung “overwhelming” dan terlalu banyak ide yang campur aduk Kegiatan mentoring menulis kembali mengingatkan saya kepada pentingnya membuat suatu outline, kerangka karangan, premis dan sebuah sinopsis. Dan memang sangat membantu dalam proses menulis. Inti cerita dan topik tetap fokus dan terjaga, dan mengalir dengan baik.

Dengan kerangka karangan pun, kadang saya masih mengalami stagnansi, mati gaya dan kehabisan ide untuk merangkai kata. Nah kalau sudah begitu, karena saya suka musik, saya menggunakan stimulus musik untuk membangkitkan ingatan-ingatan saya tentang apa yang saya tulis. Contohnya sewaktu saya menulis dengan background tahun ’98-an, saya mendengarkan lagu-lagu yang hits di era itu. Semua kenangan tentang apa yang sedang ngetrend dan happening di kala itu, membantu dalam menulis setting
ataupun penampilan tokoh yang saya tulis.

Cara lainnya adalah dengan berbincang dengan teman tentang topik yang kita tulis. Dengan menceritakan kembali, biasanya akan muncul ide-ide segar yang bisa ditambahkan dalam menulis. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan harus kita jawab merupakan stimulus kita untuk memunculkan ide dan menambah untaian kata dalam tulisan kita.

Kalau me-refresh mood menulis dengan traveling itu sudah jelas! Banyak ide saya dapat dengan traveling. Tempat yang baru memperkaya cerita kita. Problem saya adalah sering traveling dari pada menuliskannya. Ketika jadwal jalan-jalan sambung menyambung, ide yang ada sebelumnya tersimpan bersama souvenir yang kita beli sewaktu jalan-jalan. Namun demikian, foto-foto yang saya dapat selama travelling banyak membantu menulis. Dengan melihat kembali foto-foto tersebut, bisa me-recall memori saya tentang apa yang ingin saya tuliskan. Foto juga membantu saya dalam mendeskripsikan sesuatu yang saya ingin tulis terlihat nyata.
Bagaimana caranya saya “mencicipi” tulisan saya sudah enak atau belum?
Biasanya saya akan baca ulang setelah tulisan jadi. Kalau saya menulis sesuatu yang “touchy” , biar pun saya baca ulang lagi tetap akan menghadirkan perasaan yang sama.

Kadang saya senyum-senyum sendiri atau bisa tetap menitikkan air mata ketika membaca kembali bagian yang saya tulis. Tentu saja tidak mengabaikan peran orang lain untuk “mencicipi” tulisan saya. Kalau kita minta teman atau saudara kita membaca dan masih berkerut dahinya dan banyak pertanyaannya, mungkin tulisan kita hanya kita dan rumput
bergoyang yang mengerti.

Singkat kata, menulis itu berbahaya!!! karena bisa menjadi candu! Ketika tulisan saya diapresiasi, saya jadi ingin menulis lebih banyak lagi. Semakin banyak menulis, juga membuat skill menulis kita lebih baik lagi. Benar kata pepatah Jawa , writing tresna jalaran seka kulina. Kita bisa karena terbiasa.

Tulisan Elizabeth Rose, penulis buku “Look at My Garden”, hobi nulis dan traveling tinggal di Vientiane, Laos

Jasa Ghostwriter Seperti Apa?

Bukan hantu bukan setan, tapi sosok mereka ada. Itulah Ghostwriter. Orang menyebut juga dengan julukan penulis bayangan atau bahkan penulis siluman.

Oke, apa pun julukannya, jasa ghostwriter semakin lama semakin dikirik oleh penulis profesional di Indonesia. Mungkin gara-gara saya yang suka memberikan pelatihan mengenai writerpreneur sehingga mata para penulis terbuka: oh … ada ya jasa ghostwriter di Indonesia?

foto: pixabay.com

Anda mungkin menemukan artikel mengenai jasa ghostwriter ini melalui Google, dana tugas saya sekarang untuk menjelaskan seperti apa jasa penulis bayangan ini bekerja.

Saya mulai dari Anda–taruhlah Anda searching di Google untuk mencari saya untuk membuatkan naskah.

Anda sudah tepat untuk menghubungi saya–Ghostwriter Indonesia–untuk keperluan penulisan buku. Setidaknya ada kompetensi yang harus dimiliki oleh pemberi jasa ghostwriter yakni kompeten menulis, kompeten menyunting, dan kompeten melakukan wawancara. Banyak orang bisa menulis. Banyak juga orang yang mahir menyunting, banyak juga jurnalis yang sudah oke untuk melakukan sesi wawancara. Namun, penulis profesional yang menguasai tiga hal itu masih jarang. Setidaknya, tidak banyak penulis yang terus mengasah kemampuan mereka dalam hal kompetensi tiga hal itu.

Setelah Anda menemukan pemberi jasa Ghostwriter, tahap berikutnya adalah Anda membuka pembicaraan kerjasama dengannya. Silakan saling cocok-cocokan. Baik itu chemistry, kompetensi (Anda bisa minta portofolio dia), keluasan wawasan dia, dan tingkat pelayanan dia. Ukurlah dengan banyak berbicara dan berdialog. Anda berhak untuk itu.

Kalau sudah merasa cocok, mulailah lebih detail menanyakan pola kerjasama yang dia punya. Apakah dia hanya menyediakan jasa ghostwriter saja, atau sampai ke jasa penerbitan buku, atau lainnya. Kompetensi pemberi jasa ghostwriter juga diukur dari sisi ini. Sebagai contoh, kami dari Ghostwriter Indonesia memiliki relasi yang sangat dekat dengan penerbit papan atas sekelas grup Gramedia Publisher. Keunggulan ini memungkinkan naskah Anda untuk bisa terbit di penerbit terbaik di Indonesia itu.

Apa lagi setelah itu? Tentu Anda perlu tanda tangan kontrak. Perhatikan hak dan kewajiban masing-masing pihak. Anda boleh yang menyiapkan kontraknya atau biarkan si pemberi jasa ghostwriter yang mengajukan draft. Baca teliti dan tanda tangani bila sudah sepakat.

jasa ghostwriter buku jakarta
foto: pixabay.com

Lanjut dengan proses wawancara dan penulisan. Sesi ini bisa berlangsung sebulan-dua bulan. Tergantung waktu Anda sebagai narasumber dan tergantung profesionalitas si pemberi jasa ghostwriter. Saya biasanya mengambil waktu pengerjaan dua bulan sudah beres termasuk sesi wawancara, penulisan, revisi, hingga naskah ready to print.

Selesai sampai di situ? Seharusnya tidak. Seorang ghostwriter profesional akan memberikan jalan bagi kliennya untuk menerbitkan buku. Entah melalui penerbit umum atau untuk diterbitkan internal. Tanyakan kemampuan penulis itu sampai seberapa jauh dia bisa membantu Anda.

Begitu urutan prosesnya. Simpel bukan?

Nah sekarang tip untuk menemukan jasa ghostwriter profesional di Indonesia.

Pertama, carilah jasa ghostwriter profesional. Bukan sekadar orang yang pernah nulis (baca paragraf di atas mengenai 3 kompetensi dasar yang harus dimiliki ghostwriter)

Kedua, cek portofolio dia. Mungkin dia penulis produktif, tapi tidak sesuai dengan gagasan Anda. Misalnya, dia novelis dengan 10 karya padahal yang Anda butuhkan adalah seseorang yang mampu menulis naskah kesehatan karena Anda seorang dokter, misalnya.

Ketiga, pertemuan dengan penulis tersebut adalah tahap krusial. Anda bisa mengukur keramahan dia, cara dia melayani Anda, kemampuan dia menggali informasi dari Anda, dan keluasan relasi dia dengan penerbit-penerbit ternama.

Keempat, jasa ghostwriter dan jasa penulis biografi adalah tidak sama. Ada skill tertentu yang harus dimiliki oleh penulis biografi. Ada kalanya penulis biografi juga harus mampu membuat narasi memikat layaknya novel. Karena itu, cek juga portofolio dia mengenai hal itu.

Kelima, jangan asal murah. Bisa jadi si pemberi jasa ghostwriter itu memang baik hati dan suka menolong klien seperti Anda. Tapi bisa jadi dia sedang merintis karier di bidang jasa penulis bayangan ini sehingga sedang (sekadar) memburu portofolio dulu. Ada harga wajar untuk jasa ini. Kisaran tarif jasa ghostwriter ada di angka 20 juta hingga 40 jutaan per naskah. Kurang dari itu atau lebih dari itu dapat Anda nilai kelayakannya berdasarkan kompetensi dan portofolio dia.

Itu lima hal utama yang patut Anda pertimbangkan. Semoga membantu Anda untuk bisa menemukan penulis buku terbaik untuk gagasan Anda.

Salam dari saya, Anang YB Ghostwriter Indonesia.

Jasa Penulisan Buku Biografi Pasti Terbit

Rasanya, saya tidak pernah menuliskan kata-kata “Jasa Penulisan Buku” di kartu nama. Saya lebih nyaman berfokus pada predikat sebagai pemberi jasa ghostwriter dan penulis sbiografi. Tapi sudahlah, di Indonesia, beda-beda kata masih bisa dimaklumi asalkan tahu sama tahu.

Jasa penulisan buku di Jakarta dan kota-kota besar lainnya banyak dicari. Saya tentu saja gembira sebab itu sebagai pertanda bahwa kesadaran orang untuk unjuk gagasan melalui buku makin terlihat. Saya sendiri mencatat, permintaan bantuan jasa ghostwriter dan jasa penulisan buku biografi meningkat cukup signifikan. Dan, mereka datang dari banyak kota yang tidak saya duga. Mulai dari Bali, Gorontalo, Medan, Papua, Lampung, dan entah mana lagi.

Temanya pun penuh ragam. Jasa penulisan buku kedokteran misalnya. Kali pertama menggarap buku kesehatan bersama seorang dokter muda yang juga novelis bernama Amanda. Kami membuat naskah buku kesehatan seputar kehamilan dengan judul H2O alias Hamil Harus Oke.

buku panduan pengobatan diabetes
buku panduan pengobatan diabetes

Kedua kalinya saya menggarap naskah kesehatan tentang penyakit Diabetes atas permintaan Soyjoy. Buku terbit full colour dan beredar melalui penerbit Elexmedia. Uniknya, klien datang bukan langsung ke saya tapi melalui penerbit.

Buku ketiga tema kesehatan saya bakal terbit tahun ini. Kali ini bertema autoimun hasil olah pikir seorang dokter baik dan ahli autoimun. Saya membantu beliau untuk mengemas informasi-informasi itu ke dalam format naskah buku yang populer dan mudah dipahami masyarakat awam.

Eh, tapi kalau buku-buku tema penyakit saya buat juga ketika mendapat permintaan jasa penulisan buku biografi. Misalnya buku The Boy in The Baby Stroller dengan fokus penyakit OI alias Osteogenesis Imperfecta, juga biografi seorang ODHA hasil kerjasama Andy F Noya, Penerbit Buku Kompas, dan saya.

buku memoar ODHA kerjasama penerbit buku kompas dan Andy F. Noya

Belakangan, saya semakin banyak digoda dengan permintaan jasa penulisan buku biografi. Tokoh yang saya angkat mulai dari sosok Bu Menteri, rektor, pengusaha, dan masih banyak lagi. Untuk mereka saya selalu sediakan waktu lebih banyak dibandingkan permintaan jasa ghostwriter.

Kenapa? Sebab cara menulis buku biografi tidak sepenuhnya sama dengan tema-tema buku nonfiksi lainnya. Ada proses riset yang lebih mendalam, tahap wawancara yang lebih intens, lebih banyak, dan butuh narasumber yang kadang bisa lebih dari lima orang.

Hal lain yang bikin penulisan buku biografi lebih lama adalah membuat gaya tutur dan konten yang klik dengan keinginan klien. Tak mudah untuk sampai pada titik itu. Sebab, satu dua kata dan satu dua fakta yang tidak pas bisa membuat naskah biografi yang kita susun ditolak dan diminta revisi oleh klien.

Karena itu, jasa penulisan buku biografi bisa butuh waktu lebih lama dibandingkan penulisan naskah nonfiksi nonbiografi. Kira-kira, saya butuh waktu 4 bulan untuk menuntaskan satu buku biografi setebal 200 halaman buku. Karena waktu lebih lama, dan tim yang lebih banyak maka otomatis tarif menulis buku biografi juga menyesuaikan.

Namun, saat proses menulis buku biografi tuntas dibuat dan klien puas, saat itulah kita para pemberi jasa penulisan buku biografi bisa menarik napas lega–boleh juga piknik sebentar melepas stres yang terlanjur hinggap.

Tugas belum selesai …. Sebab, naskah buku biografi yang bagus itu harus kita bantu terbitkan. Apakah jasa penulisan buku biografi sudah include jasa penerbitan? Saya sih tidak. Tapi, justru saya gratiskan sebagai beyond expectation service. Saya akan semaksimal mungkin membantu klien menemukan penerbit terbaik di Indonesia,  memungkinkan masuk toko buku Gramedia, dengan desain sesuai taste si klien.

jasa ghostwriter di jakarta
jasa ghostwriter di Jakarta

Beneran gratis? Saya sih iya. Saya akan memediasi si klien untuk bisa meeting dengan penerbit Gramedia Pustaka Utama, Grasindo, Bhuana Ilmu Populer, atau Penerbit Buku Kompas. Semuanya itu adalah penerbit papan atas di Indonesia, punya reputasi baik, dan akan menaikkan branding si klien.

Bagaimana bila klien akan memakai buku untuk keperluan internal alias tidak diterbitkan? Itu juga hal mudah untuk saya. Saya sudah memiliki pengalaman cukup untuk membantu si klien melakukan seluruh proses self publishing. Mulai dari proses editing, desain buku, desain kover, pencetakan, hingga pengiriman ke alamat klien. Saya akan memanfaatkan percetakan dan penerbit berbadan hukum. Tujuannya agar buku itu tetap terbit dan memiliki ISBN.

Pada ujungnya, saya mau bilang: jasa penulisan buku adalah keniscayaan. Ketika banyak orang punya gagasan hebat tapi tak cukup tangan dan waktu untuk mewujudnyatakan dalam bentuk buku, calling saja para penulis profesional. Anda tinggal sampaikan buku apa yang Anda gagas. Mau terbit kapan dan apakah mau terbit di penerbit umum atau cukup diedarkan secara terbatas. Semudah itu kok berbagi gagasan, kisah inspirasi sekaligus menyempurnakan dunia melalui buku.

Salam dari saya, Anang YB Ghostwriter Indonesia, penulis biografi dan ghostwriter. 🙂

 

Cara Menerbitkan Buku Sendiri Murah dan Untung

buku panduan pengobatan diabetes
tip menerbitkan buku sendiri. foto: free images pixabay.com
Halo, saya  Anang YB mau sharing tentang menerbitkan buku sendiri atau istilah bulenya self publishing. Ini saya sampaikan karena dua hal. Pertama, saya sudah menjalani proses ini sejak lima tahun lalu dan kedua, saat ini proses memasukkan naskah ke penerbit umum semakin sulit dan mahal karena sering diminta beli buku di awal.
Oke, kita mulai dari batasan istilah dulu, self publishing adalah kegiatan seorang penulis untuk menerbitkan karyanya sendiri melalui penerbit yang dia miliki.

Artinya, kalau dia menerbitkan karya orang lain, maka batallah istilah itu. Atau, dia menerbitkan karyanya di penerbit lain maka batal juga pengertian ini. Seperti misalnya, saya menerbitkan karya Panjikristo yang berjudul “Mbah Jito” maka itu bukan self publishing.

Penerbit yang dimaksud bisa berupa perusahaan berbadan hukum tapi bisa juga tanpa badan hukum. Jadi, bisa saja saya mencetak buku dan saya jual tanpa repot mendirikan perusahaan penerbit. Keuntungan punya perusahaan penerbit adalah Anda berhak mengajukan pembuatan ISBN ke perpusnas.

Langkah-Langkah Self Publishing
Tentu Anda harus punya naskah sendiri. Bukan jiplakan tentu saja. Naskah apa saja bisa Anda terbitkan termasuk naskah yang sudah ditolak penerbit umum puluhan kali. Entah itu puisi, kumpulan cerpen,bahkan autobiografi Anda.

Masih ada langkah pracetak dan cetak. Langkah pracetak meliputi proses penyiapan naskah menjelang masuk mesin cetak. Pada tahap ini Anda perlu menyunting naskah, melengkapi komponen naskah, mendesain isi buku, dan mendesain kover. Kalau Anda punya penerbit berbadan hukum, Anda perlu juga mengurus ISBN ke Perpusnas.

Sudah ready dengan desain buku Anda? Carilah percetakan yang berpengalaman mencetak buku. Bukan sekadar mencetak stiker atau undangan kawinan. Saat ini sudah banyak percetakan semacam itu. Anda bisa mencetak satuan. Carilah jasa Print on Demand sebab mereka memiliki mesin digital dengan kualitas mencetak buku secara satuan. Sedangkan percetakan offset seringkali meminta Anda mencetak minimal 500 eksemplar.

Biaya yang Harus Ditanggung
Self publishing artinya Anda sudah masuk ranah bisnis. Ketika Anda membeli buku antologi dengan harga 70 ribu rupiah, Anda bisa berhitung nantinya mengapa harganya sebesar itu.

Biaya yang Anda perlu budget-kan adalah:
1. Biaya editing. Anda bisa menyunting naskah sendiri, tentu saja. Tapi kalau Anda mau pakai jasa profesional, biasanya tarifnya 10 ribuan per halaman 300 kata untuk jasa sunting ringan. Tentu ada yang pasang tarif lebih murah atau lebih mahal dari itu.

2. Biaya desain isi. Istilah kerennya jasa layout. Saya kadang me-layout sendiri buku yang saya terbitkan dengan memakai program Words. Tapi kalau Anda mahir pakai program khusus semacam Adobe InDesign tentu lebih afdol. Jasa di luaran untuk desain isi buku adalah sekitar 5 ribu rupiah per halaman buku. Jadi, tidak dihitung per kata lagi.

3. Biaya desain kover. Sebelum membuat kover, pastikan Anda sudah fix dengan judul, subjudul, nama Anda (mau pakai nama pena kah?), blurb atau teks untuk kover belakang, dan ISBN bila perlu. Saya memilih bikin sendiri dengan Adobe Photosop biar ngirit. Kalau pakai jasa orang lain bisa kena harga di kisaran 300 ribu sampai 1 juta per desain.

4. Akhirnya, siapkan budget untuk cetak buku. Ongkos cetak di percetakan digital/Print on demand tidak mahal. Untuk buku dengan ketebalan 160-an halaman ongkosnya 25 ribu-35 ribu saja. Dan, seperti saya bilang, Anda bisa cetak satuan. Oh ya, perhatikan saat Anda mendesain buku, aturlah jumlah halaman (termasuk halaman romawi) dalam kelipatan 8 agar tidak ada halaman kosong.

Tip Jualan Buku Self Publishing
Apa gunanya bikin buku tapi tidak diedarkan, to? Kecuali memang buku itu untuk konsumsi sendiri. Nah, cara paling gampang untuk hemat investasi adalah dengan teknik preorder.

Jurusnya, Anda siapkan desain cover sebulan sebelum naik cetak. Promosikan cover itu dengan sales letter merayu-rayu agar follower dan teman medsos Anda tergoda membeli. Anda bisa pasang harga dua kali ongkos cetak. Misalnya, buku Anda jual 40 ribu-60 ribu bonus tanda tangan Anda. Untuk tahap preorder boleh diberi iming-iming diskon 20% sampai tanggal tertentu.

Setelah transferan masuk, barulah Anda membawa naskah yang sudah didesain rapi ke percetakan. Anda bisa mencetak lebih banyak dari jumlah orderan karena harga jual buku sudah Anda dongkrak naik sebelumnya.

Nah, info ini menggoda Anda untuk menjadi self publisher? Kenapa tidak. Coba lakukan deh, pasti ketagihan.

Anda juga bisa mengontak saya jika memerlukan bantuan untuk menerbitkan karya Anda. Hubungi Ghostwriter Indonesia di WhatsApp 0815-990-4562 (Tjandra Susi)

*info ini bermanfaat? Silakan share tanpa mengurangi dan mengganti isinya.