Apa Jadinya Republik Ini Tanpa Ghostwriter?

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

Ketika saya dipercaya untuk membantu membesut buku sejarah hidup seorang istri menteri zaman orde baru, saya temukan kisah seru yang tidak dipublikasikan di media mana pun. Jatuh bangunnya si menteri, kisah cintanya, keras kepala orang itu,dan juga harta kekayaan beliau yang melimpah dan bertebaran hingga Los Angeles.

Dari situ saya sadar, apa jadinya kalau republik ini tak ada ghostwriter. Mungkin kisah-kisah itu akan terkubur bersama jasad pemilik kisah itu. Saya pun jadi sadar betapa berharganya buku tentang global talent yang juga saya bantu penulisannya. Di buku itu tak sekadar dibahas tentang plus minus orang republik ini saat beradu peluang menjadi global talent tapi juga banyak tips untuk menjadi pribadi kompetitif di pertarungan globalisasi.

Saya pun bersyukur mendapat kesempatan menulis kisah hidup Calvin seorang penderita penyakit yang amat langka, penyakit “tulang lunak” alias Osteogenesis Imperfecta. Perjuangan seorang bocah untuk menyembuhkan dirinya denagn obat-obatan yang masih taraf uji coba, berbagi pil dengan penderita lain karena langkanya penyakit itu, mengalami diskriminasi dalam pendidikan, dan terpaksa diterbangkan ke luar negeri karena kerusuhan Mei 2008.

Ghostwriter adalah penyuara. Ia hadir sebagai resonansi gagasan-gagasan dahsyat, kisah-kisah inspiratif yang kalau dibiarkan menguap tidak akan pernah sampai ke masyarakat.

Senang, saya bisa memilih profesi ini, seorang Ghostwriter Indonesia.

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

Menulis Cepat Tuntas? Itulah Naskah Model Butiran

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

jurus menulis cepat

Oleh Anang YB

Menulis naskah buku itu asyik, ya kan? Tapi terkadang otak justru buntu saat kita sampai di bagian tengah. Seolah semua ide terlanjur diurai di awal. Dari yang semula mau menulis 200 halaman buku, tapi otak mulai low-batt memasuki halaman 80-an …. Bisa jadi Anda pernah mengalami hal itu. Kasus seperti itu banyak terjadi pada proses penulisan naskah model tahapan. Hemm … bagi Anda yang lupa-lupa ingat soal ragam naskah, saya coba jelaskan sebentar.

Naskah model tahapan adalah naskah buku nonfiksi yang dari bagian awal hingga bagian akhir bergerak langkah demi langkah, dari sesuatu yang umum menuju ke bahasan yang lebih detail. Bayangkan Anda membaca skripsi atau laporan penelitian. Atau buku how-to cara berbisnis online yang memulai naskahnya dari mencari ide bisnis dan berujung pada cara mengirim barang. Buku biografi dan true story termasuk dalam model naskah ini. Penulis biasanya mulai mengerjakan naskahnya dari bagian awal. Demikikan pula pembaca, mereka membaca dengan nyaman bila berurut dari bagian awal terus beranjak ke halaman-halaman berikutnya.

Model naskah kedua adalah model butiran. Ini adalah model naskah yang bisa Anda buat dengan lebih cepat. Cepat menulisnya, cepat risetnya, dan tentunya bisa Anda tulis dari halaman berapa saja. Naskah butiran terkadang dianggap sebagai naskah yang kalah bobot dibandingkan naskah model tahapan. Bagi saya, itu urusan masing-masing dan Anda sebagai penulis tak perlu merasa turun gengsi apalagi malu-malu untuk launching buku model ini. Semua karya tulis sama baiknya, bahkan andai yang Anda buat sekadar buku mewarnai.

Balik ke model naskah butiran. Naskah ini bisa Anda susun dari materi tulisan yang ada di blog Anda. Bisa juga dari note di Facebook bahkan dari kumpulan kicauan Anda di Twitter. Kalaupun Anda tidak memiliki semua itu, Anda bisa riset di internet dengan tetap mengedepankan niat baik: tidak untuk menjiplak. Lihatlah gaya-gaya artikel di internet. Anda sudah pasti pernah membaca model tulisan seperti ini: 8 Jurus Memikat Wanita, 5 Hal yang Dibenci Atasan, Ini Dia Tujuh Rahasia Berbohong yang Membahagiakan …. Model-model tulisan semacam itu bisa jadi embrio untuk lahirnya sebuah naskah model butiran.

Di toko buku Anda juga amat mudah menemukan buku dengan judul: 101 Tips Merawat Perabot Rumah, 88 Mesin Uang di Internet, Panduan Komplet Jadi Backpacker, Ini Dia Ayat-Ayat Dahsyat, Jurus Mulus Presentasi, Rahasia Suami Gampang Poligami, dan lain-lain …. naskah-naskah itu bisa Anda tulis secara cepat. Tiap topik kiat dapat Anda tulis sepanjang 3-5 halaman saja. Lipat gandakan dengan menulis kiat lain hingga berjumlah 20-40 bahasan. Cara termudah adalah dengan membuat outline tulisan. Saya lebih sering memakai mind map dan itu amat membantu. Dengan outline ataupun mind map ini, Anda dapat mulai menulis dari mana saja.

Nah, jangan katakan Anda tidak punya ide menulis. Isilah waktu Anda dengan merancang naskah model butiran ….

@Anang YB

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

Professional Fee Pekerja Kreatif

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

Kerja di industri kreatif secara mandiri (bukan karyawan) seperti writerpreneur tantangannya adalah menentukan professional fee. Ongkos jasa memang tak sekadar diukur dari biaya produksi … lebih dari sekadar menambahkan biaya listrik, biaya internet, biaya makan siang, segelas kopi, dan harga kertas.

Godaan terbesar adalah ketika harga kita ditawar serendah-rendahnya dan kita masih berpikir: sebetulnya segitu juga masih lumayan untung. Di situlah keteguhan hati diuji, keteguhan menempati positioning di level harga tertentu yg terlanjur kita patok. Hal berat bagi saya adalah menyusun kalimat penolakan, bukan karena tidak sesuai harganya tapi kadang karena kasihan tidak dapat membantu.

Bagi yang sudah punya pasangan, solusi akhir adalah minta petunjuk istri. Kalau istri sudah bilang, “Tolak aja daripada dikadalin..” maka mantaplah kita untuk mencoret calon klien tersebut. Gagal menolak permintaan jasa yang sebetulnya tidak layak digarap, membuat banyak pekerja self employed “mati kering” karena terjebak pada kegiatan yg bersifat volume based dgn harga rendah. Padahal kekuatan dia bekerja kreatif tak bisa lebih dari 10 jam sehari.

Anda pernah berada di situasi seperti itu …?

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest