Archive for the ‘GHOSTWRITING TIPS’ Category

5 Salah Kaprah Self Publishing di Indonesia

Posted 02 Oct 2013 — by admin
Category GHOSTWRITING TIPS, Jasa Ghostwriting

Self publishing?
Ini urusan yang membingungkan bagi yang tahu.
Lho? Ya, bagi yang tidak tahu apa sejatinya self publishing, bakal santai dan ikut saja apa kata orang. Bagi yang tahu dan melihat deretan salah kaprah di Indonesia soal self publishing bisa jadi otaknya perlu asupan Panadol.

Ini dia 5 salah kaprah yang menjurus konyol seputar self publishing.

1. “Saya menerbitkan buku melalui penerbit indie dengan membayar sekian ratus ribu”
Halooo…. penerbit indie ya self publishing itu! Penerbit indie adalah kamu, si penulis yang membiayai seluruh proses penerbitan bukumu.
Lho, lantas “mereka” yang mengklaim sebagai “penerbit indie” dan membantu penulis itu APA?
Mereka adalah PELAYAN Anda selaku self publisher! Istilah untuk mereka adalah Publishing service. Atau bisa juga disebut Vanity Publishing alias penerbit yang meminta bayaran dari penulis untuk menerbitkan naskahnya.

2. “Saya belum pede menyerahkan naskah ke penerbit umum, makanya saya terbitkan secara self publishing”
Ini kekonyolan yang paling akut. Denger nih. Ada logika terbalik di Indonesia. Dan, saya mau luruskan.
Asumsi umum mengatakan: karena masih pemula alias belum pede dengan naskahnya, maka sebaiknya terbitkan dulu naskahmu secara self publishing. Ntar kalau udah punya nama dan kualitas naskahnya bagus, barulah dimasukkan ke penerbit umum.
Halooo.. (lagi)! Justru itu pemikiran SALAH! Di saat kamu belum pede, serahkan naskahmu ke penerbit umum. Jangan ambil risiko untuk berinvestasi. Sebaliknya, ketika naskahmu dahsyat dan kamu punya pasar yang loyal, terbitkan bukumu secara self publishing!

3. “Penerbit indie adalah penerbit yang membantu penulis menerbitkan naskahnya dengan biaya sendiri”

Kata siapa? Ada tiga salah kaprah di situ. Pertama: penerbit indie adalah kamu si penulis (baca lagi poin 1). Lantas, yang kamu sebut “penerbit indie” itu sebetulnya sekadar publishing service (baca poin 2). Dan, yang mengklaim sebagai penerbit indie dengan tawaran menerbitkan naskahmu itu belum tentu penerbit berbadan hukum yang bisa mengeluarkan ISBN! Bisa jadi mereka adalah perusahaan percetakan yang punya mesin Print on Demand, atau … mereka adalah sekumpulan desain grafis yang awalnya melayani pembuatan kaver dan layout buku kemudian iseng terjun di bisnis publishing service. Bisa juga mereka adalah seseorang yang awalnya ketua suatu komunitas penulis yang lama-lama tergiur masuk bisnis publishing service.

4. “Kita bisa membuat nama penerbit sendiri dan ISBN bisa beli dari penerbit indie”

Hati-hati dengan tawaran semacam ini. ISBN di Indonesia diberikan pada penerbit yang sudah berbadan hukum. Jadi, kalau kamu bikin nama penerbit rumahan tanpa badan hukum dan lantas bisa “membeli” ISBN dari publishing service, maka saatnya kamu waspada. ISBN tidak seroyal itu dibagi-bagi. Sebab di dalam kode ISBN ada numerik unik dari suatu penerbit berbadan hukum.

5. “Self Publishing lebih simpel daripada menerbitkan naskah lewat penerbit mayor”
Yakin? Lebih simpel dari mana ya? Itu adalah klaim berlebihan dari penyedia jasa publishing service. Melakukan self publishing jauh lebih rumit dari sekadar keluar duit 500 ribu dan dapat 2 biji buku contoh cetak. Melakukan self publishing berarti Anda harus jadi panitia tunggal merangkap investor! Anda menulis naskah sendiri, melayout, membuat cover, mengedit dengan biaya sendiri (bisa saja Anda alihdayakan ke profesional di pekerjaan itu dengan biaya Anda), memasarkan buku sendiri, dll.
Self publishing bukan tindakan main-main. Jika Anda 100% penulis, maka 2 bulan Anda bisa membuat satu naskah. Ketika Anda “iseng” melakukan self publishing, maka butuh berbulan-bulan dan ribuan jam untuk mengurusi peredaran satu buku Anda!

Saya pun bingung dengan istilah penerbit mayor. Siapa di Indonesia yang memulai dan suka memakai istilah itu? Apakah di luar penerbit mayor ada penerbit minor atau malah penerbit kolonel? Dari pada pusing, mending self publishing di-lawankata-kan dengan penerbit umum yang menerbitkan naskah masyarakat umum.

Nah, mau komentar?

@Anang YB – www.GhostwriterIndonesia.com

Membedah Buku Bestseller

Comments Off
Posted 14 Sep 2012 — by admin
Category GHOSTWRITING TIPS
tips menembus penerbit

Tips menulis

Apakah penulis perlu menerapkan jurus jitu intelijen bisnis?
Saya, Anang Y.B., amat yakin hal itu perlu dilakukan. Karena itu, saya saat ini sedang membedah sebuah buku bestseller!

Membedah buku? Jangan bayangkan saya sedang duduk melingkar bersama segerombolan penyuka pustaka, berdiskusi panjang lebar membahas isi sebuah buku! Oh no! Saya sendirian saja. Yang saya lakukan lebih mirip seorang detektif produksi. Layaknya seorang kompetitor membongkar dan memreteli setiap inchi demi inchi dari sebuah mobil bikinan lawan bisnis! Read More

Menjadi Penulis Sekaligus Editor?

Posted 01 May 2012 — by admin
Category GHOSTWRITING TIPS, Jasa Ghostwriting

Banyak penulis yang sudah merasa nyaman saat menjadi penulis saja. Saya pun dulunya demikian. Satu per satu buku saya terbit hingga 10 biji dalam tempo 2 tahun. Rasanya, dikaruniai profesi penulis sudah melambungkan saya di awang-awang.

Ketika saya menggagas Red Carpet Studio dan membantu seratusan penulis baru menerbitkan bukunya secara self publishing, saya pun pelan namun pasti masuk dunia baru, dunia editing naskah. Ternyata, dunia yang satu  ini menawarkan keasyikan baru di luar kenikmatan menulis naskah. Read More

Why Self Publishing?

Posted 27 Feb 2012 — by admin
Category GHOSTWRITING TIPS

Ghostwriterindonesia.com. Fakta-fakta berikut ini yang membuat orang memutuskan menerbitkan bukunya sendiri alias self publishing di Indonesia:
1. Penulis bisa mengontrol seluruh proses pembuatan buku tanpa direcoki pikiran editor maupun saran orang pemasaran yang kadang sok tahu.
2. Desain cover buku, layout, ukuran buku, tebal buku bisa disajikan sesuai gagasan orisinil penulis.
3. Penulis bisa menentukan sendiri jumlah buku yang dicetak Read More

Hlm 2 of 512345