Menulis Cepat Tuntas? Itulah Naskah Model Butiran

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

jurus menulis cepat

Oleh Anang YB

Menulis naskah buku itu asyik, ya kan? Tapi terkadang otak justru buntu saat kita sampai di bagian tengah. Seolah semua ide terlanjur diurai di awal. Dari yang semula mau menulis 200 halaman buku, tapi otak mulai low-batt memasuki halaman 80-an …. Bisa jadi Anda pernah mengalami hal itu. Kasus seperti itu banyak terjadi pada proses penulisan naskah model tahapan. Hemm … bagi Anda yang lupa-lupa ingat soal ragam naskah, saya coba jelaskan sebentar.

Naskah model tahapan adalah naskah buku nonfiksi yang dari bagian awal hingga bagian akhir bergerak langkah demi langkah, dari sesuatu yang umum menuju ke bahasan yang lebih detail. Bayangkan Anda membaca skripsi atau laporan penelitian. Atau buku how-to cara berbisnis online yang memulai naskahnya dari mencari ide bisnis dan berujung pada cara mengirim barang. Buku biografi dan true story termasuk dalam model naskah ini. Penulis biasanya mulai mengerjakan naskahnya dari bagian awal. Demikikan pula pembaca, mereka membaca dengan nyaman bila berurut dari bagian awal terus beranjak ke halaman-halaman berikutnya.

Model naskah kedua adalah model butiran. Ini adalah model naskah yang bisa Anda buat dengan lebih cepat. Cepat menulisnya, cepat risetnya, dan tentunya bisa Anda tulis dari halaman berapa saja. Naskah butiran terkadang dianggap sebagai naskah yang kalah bobot dibandingkan naskah model tahapan. Bagi saya, itu urusan masing-masing dan Anda sebagai penulis tak perlu merasa turun gengsi apalagi malu-malu untuk launching buku model ini. Semua karya tulis sama baiknya, bahkan andai yang Anda buat sekadar buku mewarnai.

Balik ke model naskah butiran. Naskah ini bisa Anda susun dari materi tulisan yang ada di blog Anda. Bisa juga dari note di Facebook bahkan dari kumpulan kicauan Anda di Twitter. Kalaupun Anda tidak memiliki semua itu, Anda bisa riset di internet dengan tetap mengedepankan niat baik: tidak untuk menjiplak. Lihatlah gaya-gaya artikel di internet. Anda sudah pasti pernah membaca model tulisan seperti ini: 8 Jurus Memikat Wanita, 5 Hal yang Dibenci Atasan, Ini Dia Tujuh Rahasia Berbohong yang Membahagiakan …. Model-model tulisan semacam itu bisa jadi embrio untuk lahirnya sebuah naskah model butiran.

Di toko buku Anda juga amat mudah menemukan buku dengan judul: 101 Tips Merawat Perabot Rumah, 88 Mesin Uang di Internet, Panduan Komplet Jadi Backpacker, Ini Dia Ayat-Ayat Dahsyat, Jurus Mulus Presentasi, Rahasia Suami Gampang Poligami, dan lain-lain …. naskah-naskah itu bisa Anda tulis secara cepat. Tiap topik kiat dapat Anda tulis sepanjang 3-5 halaman saja. Lipat gandakan dengan menulis kiat lain hingga berjumlah 20-40 bahasan. Cara termudah adalah dengan membuat outline tulisan. Saya lebih sering memakai mind map dan itu amat membantu. Dengan outline ataupun mind map ini, Anda dapat mulai menulis dari mana saja.

Nah, jangan katakan Anda tidak punya ide menulis. Isilah waktu Anda dengan merancang naskah model butiran ….

@Anang YB

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

Professional Fee Pekerja Kreatif

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

Kerja di industri kreatif secara mandiri (bukan karyawan) seperti writerpreneur tantangannya adalah menentukan professional fee. Ongkos jasa memang tak sekadar diukur dari biaya produksi … lebih dari sekadar menambahkan biaya listrik, biaya internet, biaya makan siang, segelas kopi, dan harga kertas.

Godaan terbesar adalah ketika harga kita ditawar serendah-rendahnya dan kita masih berpikir: sebetulnya segitu juga masih lumayan untung. Di situlah keteguhan hati diuji, keteguhan menempati positioning di level harga tertentu yg terlanjur kita patok. Hal berat bagi saya adalah menyusun kalimat penolakan, bukan karena tidak sesuai harganya tapi kadang karena kasihan tidak dapat membantu.

Bagi yang sudah punya pasangan, solusi akhir adalah minta petunjuk istri. Kalau istri sudah bilang, “Tolak aja daripada dikadalin..” maka mantaplah kita untuk mencoret calon klien tersebut. Gagal menolak permintaan jasa yang sebetulnya tidak layak digarap, membuat banyak pekerja self employed “mati kering” karena terjebak pada kegiatan yg bersifat volume based dgn harga rendah. Padahal kekuatan dia bekerja kreatif tak bisa lebih dari 10 jam sehari.

Anda pernah berada di situasi seperti itu …?

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

5 Salah Kaprah Self Publishing di Indonesia

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest

Self publishing?
Ini urusan yang membingungkan bagi yang tahu.
Lho? Ya, bagi yang tidak tahu apa sejatinya self publishing, bakal santai dan ikut saja apa kata orang. Bagi yang tahu dan melihat deretan salah kaprah di Indonesia soal self publishing bisa jadi otaknya perlu asupan Panadol.

Ini dia 5 salah kaprah yang menjurus konyol seputar self publishing.

1. “Saya menerbitkan buku melalui penerbit indie dengan membayar sekian ratus ribu”
Halooo…. penerbit indie ya self publishing itu! Penerbit indie adalah kamu, si penulis yang membiayai seluruh proses penerbitan bukumu.
Lho, lantas “mereka” yang mengklaim sebagai “penerbit indie” dan membantu penulis itu APA?
Mereka adalah PELAYAN Anda selaku self publisher! Istilah untuk mereka adalah Publishing service. Atau bisa juga disebut Vanity Publishing alias penerbit yang meminta bayaran dari penulis untuk menerbitkan naskahnya.

2. “Saya belum pede menyerahkan naskah ke penerbit umum, makanya saya terbitkan secara self publishing”
Ini kekonyolan yang paling akut. Denger nih. Ada logika terbalik di Indonesia. Dan, saya mau luruskan.
Asumsi umum mengatakan: karena masih pemula alias belum pede dengan naskahnya, maka sebaiknya terbitkan dulu naskahmu secara self publishing. Ntar kalau udah punya nama dan kualitas naskahnya bagus, barulah dimasukkan ke penerbit umum.
Halooo.. (lagi)! Justru itu pemikiran SALAH! Di saat kamu belum pede, serahkan naskahmu ke penerbit umum. Jangan ambil risiko untuk berinvestasi. Sebaliknya, ketika naskahmu dahsyat dan kamu punya pasar yang loyal, terbitkan bukumu secara self publishing!

3. “Penerbit indie adalah penerbit yang membantu penulis menerbitkan naskahnya dengan biaya sendiri”

Kata siapa? Ada tiga salah kaprah di situ. Pertama: penerbit indie adalah kamu si penulis (baca lagi poin 1). Lantas, yang kamu sebut “penerbit indie” itu sebetulnya sekadar publishing service (baca poin 2). Dan, yang mengklaim sebagai penerbit indie dengan tawaran menerbitkan naskahmu itu belum tentu penerbit berbadan hukum yang bisa mengeluarkan ISBN! Bisa jadi mereka adalah perusahaan percetakan yang punya mesin Print on Demand, atau … mereka adalah sekumpulan desain grafis yang awalnya melayani pembuatan kaver dan layout buku kemudian iseng terjun di bisnis publishing service. Bisa juga mereka adalah seseorang yang awalnya ketua suatu komunitas penulis yang lama-lama tergiur masuk bisnis publishing service.

4. “Kita bisa membuat nama penerbit sendiri dan ISBN bisa beli dari penerbit indie”

Hati-hati dengan tawaran semacam ini. ISBN di Indonesia diberikan pada penerbit yang sudah berbadan hukum. Jadi, kalau kamu bikin nama penerbit rumahan tanpa badan hukum dan lantas bisa “membeli” ISBN dari publishing service, maka saatnya kamu waspada. ISBN tidak seroyal itu dibagi-bagi. Sebab di dalam kode ISBN ada numerik unik dari suatu penerbit berbadan hukum.

5. “Self Publishing lebih simpel daripada menerbitkan naskah lewat penerbit mayor”
Yakin? Lebih simpel dari mana ya? Itu adalah klaim berlebihan dari penyedia jasa publishing service. Melakukan self publishing jauh lebih rumit dari sekadar keluar duit 500 ribu dan dapat 2 biji buku contoh cetak. Melakukan self publishing berarti Anda harus jadi panitia tunggal merangkap investor! Anda menulis naskah sendiri, melayout, membuat cover, mengedit dengan biaya sendiri (bisa saja Anda alihdayakan ke profesional di pekerjaan itu dengan biaya Anda), memasarkan buku sendiri, dll.
Self publishing bukan tindakan main-main. Jika Anda 100% penulis, maka 2 bulan Anda bisa membuat satu naskah. Ketika Anda “iseng” melakukan self publishing, maka butuh berbulan-bulan dan ribuan jam untuk mengurusi peredaran satu buku Anda!

Saya pun bingung dengan istilah penerbit mayor. Siapa di Indonesia yang memulai dan suka memakai istilah itu? Apakah di luar penerbit mayor ada penerbit minor atau malah penerbit kolonel? Dari pada pusing, mending self publishing di-lawankata-kan dengan penerbit umum yang menerbitkan naskah masyarakat umum.

Nah, mau komentar?

@Anang YB – www.GhostwriterIndonesia.com

Tweet about this on TwitterShare on FacebookEmail this to someoneShare on Google+Pin on Pinterest