Menulis Biografi: Mengorek Cerita dari Si Orang Susah Ngomong

Kalau Anda ingin menjadi penulis biografi atau malahan berniat memberikan jasa penulisan biografi secara profesional, maka bayangkan dulu siapa saja yang bakal Anda hadapi. Apakah Anda berpikir semua tokoh yang Anda niatkan untuk ditulis biografinya adalah orang yang humble, ramah, banyak cerita, menghargai profesi penulis? Pinginnya begitu. Sayangnya, hidup tidak sesimpel itu, guys!

jasa penulisan biografi
panduan menulis biografi foto: pixabay.com

Ada banyak batu sandungan bagi mereka yang ingin menjadi penulis biografi. Ini beberapa di antaranya:

1. Anda berhadapan dengan orang tipe mendikte. Mereka tidak senang ketika Anda mengatur dan mengendalikan wawancara. Sesekali mereka akan menginterupsi dan memilih jalan wawancara sendiri.

2. Mereka tipe orang dengan pikiran tidak tersetruktur. Bicara ngalor ngidul meski pertanyaan Anda sudah lugas.

3. Mereka tipe orang post-power syndrom. Selalu membanggakan banyak hal yang dia pikir itu sebuah prestasi meski menurut Anda itu terlalu simpel dan tak cukup berharga untuk mengangkat cerita di dalam naskah.

4. Narasumber buku biografi Anda adalah tipe pendiam dan irit bicara. Semua pertanyaan Anda dijawab dengan ya dan tidak. Sesi wawancara selama 20 menit sudah sedemikian garing hingga Anda pingin segera meneguk habis kopi yang manis panas di atas meja.

5.  Tokoh buku biografi Anda kebanyakan acara. Anda hanya diberi waktu dua puluh menit. Saat Anda datang, skedul dia berubah dan hanya harus menunggu dua jam untuk wawancara dua puluh menit itu.

6. Tokoh biografi Anda selalu mengajak makan tiap wawancara sementara Anda cukup sibuk. Satu kali makan sudah membuang waktu 30 menit plus 30 menit untuk basa-basi. Selebihnya Anda sudah lelah.

Mau ditolak klien buku biografi semacam itu? Janganlah. Mungkin dalam hal tertentu Anda juga sama menyebalkannya juga, hahaha …. So, hadapi dan dan jalani pilihan hidup Anda untuk menjadi seorang pemberi jasa penulisan biografi. Jangan lembek, jangan mudah menyerah, dan teruslah menulis biografi.

Bagaimana cara untuk mengatasinya?
1. Buatlah outline dan share ke narasumber atau asistennya. Pastikan Anda akan melakukan wawancara hanya soal itu. Minta narasumber untuk menyiapkan materi itu. Tujuannya agar bahan untuk penulisan biografi Anda peroleh secara maksimal di tiap-tiap sesi wawancara.

2. Jangan takut untuk menginterupsi. Kembalikan alur wawancara sesuai outline Anda. Susah? Memang. Tapi belajarlah dari para jurnalis senior. Jika banyak remaja bisa main gitar dari menonton Youtube, Anda pun bisa menjadi pewawancara hebat melalui tontonan video Kick Andy, Oprah, dll. Belajarlah teknik bertanya dari para orang hebat itu.

3. Buatlah narasumber bertanggung jawab atas deadline, jangan Anda saja yang harus pusing tujuh keliling. Beliau pun harus Anda sadarkan bahwa ketatnya waktu harus menjadi concern dia juga. Kalau narasumber penulisan buku biografi Anda ingin memakai buku pada bulan X, tunjukkan tata waktunya. Katakan bahwa dengan mundur seminggu atau dengan mereskedul rencana wawancara seminggu berarti naskah akan mundur juga seminggu untuk finalisasinya.

4. Saya sendiri tidak suka wawancara dengan acara makan. Pertama, itu buang waktu. Kedua, obrolan saat makan susah untuk ditranskrip. Wawancara dengan makan boleh dilakukan saat pertemuan pertama untuk saling kenal dan preview kisah secara umum. Karena itu, buatlah pertemuan tanpa ada selipan jam makan. Buatlah janji pukul 10 pagi atau setelah pukul 14.00.

5. Narasumber yang terlalu sibuk dapat Anda minta untuk bertemu satu-dua hari full. Anda bisa Ambil waktu akhir pekan dengan menginap di villanya atau di sebuah resort/hotel. Gali dan manfaatkan waktu dua hari itu untuk menulis secara cepat.

6. Kalau sudah mentok dan susah untuk menggali lebih dalam lagi, saatnya Anda berburu konten cerita dari orang-orang di sekitarnya. Ini memang tidak 100% ideal tapi ada tip dari saya: ketika data banyak di-support oleh narasumber sekunder, buku dapat Anda buat dengan point of view orang ketiga. Artinya, Anda menulis buku biografi bukan dengan kata “saya” si tokoh tapi dengan menyebut namanya. Seolah orang lain yang bercerita.

7. Gunakan banyak jurus untuk memperkaya isi buku ketika data Anda tidak banyak diperoleh dari narasumber utama. Riset sebanyak mungkin dari koran, majalah, dan buku-buku yang ada. Anda dapat membangun setting cerita dengan literatur.

Nah, lumayan lengkap kan tip dari saya 🙂 Kasih komentar jika bermanfaat. Bila Anda sedang mengerjakan penulisan buku biografi dan kesulitan untuk menuntaskan, silakan kontak saya di 0815-990-4562. Saya punya program mentoring menuntaskan naskah selama 1 bulan. Saya berikan jurus-jurus agar tulisan Anda lekas tuntas.

Salam dari saya, Anang YB penulis biografi Indonesia.

 

Komentar Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *