Menulis Kisah Hidup Diri Sendiri atau Orang yang Kita Sayangi

Bisa jadi, Anda tiba-tiba ingin menulis kisah hidup. Ya, kisah hidup Anda sendiri. Atau, Anda ingin menuliskan kisah inspiratif dari orang yang Anda sayangi. Ayah atau bunda. Entah untuk kado terendah di ulang tahun salah satu dari mereka atau peringatan ulang tahun perkawinan.

Membuat buku kenangan kisah hidup tentu hasilnya sangat berarti!

Anda mungkin tidak peduli, tulisan itu akan bernama buku biografi atau buku memoar. Atau, buku true story. Semua itu hanya istilah. Intinya Anda ingin mengabadikan kisah seru, manis, asem, dan suka cita dari diri Anda sendiri atau anggota keluarga.

jasa ghostwriter di jakarta
jasa ghostwriter di jakarta

Mengapa Menulis Autobiografi Anda?

Ya, mengapa? Saya jadi teringat dengan sahabat saya. Ia seorang dokter dan tiba-tiba ingin membuat sebuah autobiografi. Ia serius dengan niatnya meski keadaan dirinya tidak selalu mendukung.

Apakah dia terlalu sibuk? Bukan itu. Dia adalah orang dengan virus HIV di tubuhnya.

Menulis kisah hidup apalagi pengalaman diri sendiri sudah pasti menguras energi. Bukan energi untuk mengetik tetapi juga untuk membongkar masa lalu. Tak semua orang cukup kuat dan bertenaga untuk melakukannya.

Mengapa kawan baik saya ini ingin menulis biografi sebagai seorang ODH (Orang Dengan HIV)? Seberapa penting karya itu untuk dibaca orang lain? Ini alasan dokter gigi yang saat ini berpraktik di Merauke itu:

  1. Menulis buku autobiografi untuk memperlihatkan kondisi terbaik dia saat ini
  2. Menulis kisah hidup juga untuk memperlihatkan perjuangan dan titik balik yang dia alami
  3. Membongkar stigma atas mitos-mitos salah tentang ODH
  4. Menulis kisah nyata juga untuk membagi inspirasi dan pesan-pesan kebaikan.

Menulis kisah hidup mungkin tak beda jauh dengan menggelar foto-foto dari album yang setumpuk.  Anda mengurutkannya dari waktu ke waktu. Dari satu momen ke momen lain berdasarkan urutan usia Anda. Setiap lembar foto memuat satu kisah dan latar belakang yang berbeda.

  • “Foto ini mengisahkan saya saat lahir dengan posisi sungsang.”
  • “Foto ini adalah saat saya dimasukkan karung untuk ditimbang di Posyandu.”
  • “Foto ini adalah kenangan terendah ketika saya menerima piala untuk pertama kalinya.”
  • “Foto ini adalah kenangan terakhir bersama pacar pertama saya di SMP.”
  • “Foto ini adalah foto terlengkap keluarga saya sebelum Papa pergi entah ke mana dengan siapa.”

Dan, masih ratusan foto dengan simpanan kisah-kisah seru di dalamnya. Setiap foto adalah teka-teki bagi mereka yang tidak ikut mengalami sekaligus diary bagi saya yang ada di dalam foto itu.

Ada satu foto yang sengaja saya taruh di tumpukan terbawah karena saya ingin itu tetap menjadi rahasia terbesar saya. Namun, ada belasan foto lain yang ingin saya perlihatkan berkali-kali karena ada sukacita di dalamnya. Saat Mama memeluk erat ketika saya bertoga, saat saya mencium lututnya dengan pakaian pengantin, dan saat Mama menggendong cucu pertama dari perkawinan saya.

Anda pun bisa menulis kisah inspiratif orang lain—bisa jadi itu adalah Mama Anda.

Anda tinggal berfokus pada kehidupan beliau, pada foto-foto beliau. Mungkin dalam banyak foto itu ada Anda di dalamnya. Namun, Anda bukan tokoh sentral. Anda pemeran pembantu atau sekadar figuran. Tak mengapa.

Fantastis, kan?

menulis memoar
menulis memoar

Bahkan Anda bisa “melihat” Mama Anda sebelum Anda dilahirkan. Masuk ke lorong waktu berdasarkan kisah-kisah dari saksi kehidupan Mama Anda atau foto-foto hitam putih beliau yang mulai menguning berjamur.

Anda mungkin akan terperanjat. Betapa miripnya Mama dengan Anda. Bukan Cuma bentuk dagu dan ikalnya rambut. Tetapi pilihan beliau pada warna, kegiatan sehari-hari, dan mungkin tipe pasangan hidup.

Mungkin Anda malah tidak bisa berhenti untuk menelusuri kisah-kisah di masa lalu dari orang-orang kesayangan Anda yang Anda tuliskan kisah hidupnya.

“Apa yang terjadi dengan Papa sehingga memilih Mama sebagai pasangan hidupnya di usia 35 tahun?”

“Mengapa akhirnya Papa ikhlas berganti keyakinan demi perkawinan dengan Mama?”

Foto-foto tentu tak cukup untuk menjadi sumber cerita paragraf demi paragraf. Anda perlu bertanya pada banyak orang. Selain dengan narasumber utama di dalam tokoh Anda itu.

Namun, ada hal yang selalu kurang saat kita menulis biografi, terutama autobiografi. Apakah itu? Keberanian membongkar masa lalu!

jasa ghoswriter buku
jasa ghoswriter buku

Apa Itu Autobiografi?

Keberanian untuk kembali mengingat masa lalu memang amat diperlukan. Lebih-lebih bila kita menulis autobiografi. Sebab, autobiografi secara definisi adalah catatan kehidupan seseorang yang ditulis oleh diri sendiri. Memang, di luar sana ada banyak buku kisah hidup seseorang yang ditulis oleh penulis profesional. Itulah buku biografi.

Tapi bagaimana dengan menulis kisah hidup sendiri alias autobiografi? Anda bukan penulis profesional dan Anda tak tahu harus mulai dari mana.

Saran saya, lakukan dengan menggelar foto-foto Anda. Sebanyak mungkin. Urutkan berdasarkan waktu.

  1. Foto kelahiran Anda.
  2. Foto saat Anda sunat atau dibaptis—terserah mana yang Anda alami. Upps, Anda perempuan dan pastinya tak ada foto sunatan.
  3. Foto saat Anda memakai seragam sekolah pertama kali. Mungkin itu adalah baju kelasi, model seragam taman kanak-kanak di semua sudut dunia.
  4. Foto Anda saat memegang keranjang bunga di pernikahan Om Anda.

Entah foto apa lagi.

Anda masukkan enam huruf di setiap foto itu. Yaitu, 5W dan 1H. Alias, What, Where, Who, When, Why, dan How. Sesimpel itu. Anda punya 100 foto? Maka, Anda pun memiliki 100 jawaban atas 5W dan 1H itu.

jasa ghostwriter buku
jasa ghostwriter buku. foto: pixabay.com

Apa itu Memoar?

Foto Anda mungkin bisa begitu banyak. Anda sudah lelah duluan membayangkan ada ratusan halaman buku harus Anda tulis.

Oke, saya hanya akan menulis satu penggal hidup saya yang paling inspiratif. Jika niatan itu yang ada dalam pikiran Anda, maka Anda sudah menentukan pilihan: menulis memoar.

Ya, memoar adalah satu kisah pilihan dari kehidupan tokoh di dalam biografi. Pilihan fragmen kehidupan, begitu saya menyebutnya. Mungkin saja itu adalah …

  • Perjalanan karier Anda.
  • Kisah Anda menemukan spiritualitas hidup
  • Kehidupan keluarga inti Anda
  • Prestasi Anda di satu cabang olahraga
  • Pengabdian Anda di salah satu lembaga sosial.

Atau entah apa.

Tiap orang bisa saja memilih seperti apa memoar ditulis. Anda mungkin seorang petualang dan ingin menuliskan pengalaman mendaki Himalaya. atau, kisah semenjak Anda terdeteksi memiliki virus HIV di dalam tubuh Anda.

Ada baiknya Anda membaca buku saya: Hartini, Memoar Seorang Perempuan dengan HIV yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas bekerja sama dengan Andy F. Noya.

Sampai titik ini Anda sudah terdorong untuk menulis kisah hidup sendiri?

jasa ghostwriter buku di jakarta

Tantangan berat untuk menulis autobiografi atau memoar adalah dorongan untuk menulis selengkap dan sedetail mungkin. Padahal, Anda bukan malaikat. Lebih konkret lagi, Anda mungkin memang bukan penulis profesional.

Maka, Anda bisa pertimbangkan untuk mencari kawan untuk mendampingi Anda menulis. Dia akan menyiapkan peluit saat Anda mulai banyak berkeluh kesah. Dia juga sediakan waktu untuk melayani pertanyaan-pertanyaan teknis Anda.

Dalam banyak kasus, mentor menulis biografi  juga akan menemukan gelap terang kisah hidup yang Anda tulis sendiri.

“…. mengapa ada kisah yang meloncat di sini?”

“Mengapa Anda tiba-tiba putus hubungan cinta setelah LDR tujuh tahun, apa yang Anda tidak kisahkan?”

Mentor memang akan menjadi pembaca pertama draft naskah Anda. Bukan untuk menghambat atau menginterupsi proses menulis Anda. Justru dia akan menjadi pengawal Anda.

Boleh Anda cek jadwal Kuliah Online saya untuk program menulis biografi untuk pemula. Tak selalu saya jadwalkan sepanjang bulan. Tapi, Anda dapat mencolek saya di WhatsApp 0816700257 saat memerlukan bimbingan.

menulis kisah hidup
menulis kisah hidup

Bagaimana Memilih Topik Anda

Jadi, topik apa yang perlu dimasukkan dalam autobiografi Anda? Saran saya, mulailah dengan menemukan titik balik kehidupan Anda. Hal yang saya maksud dengan titik balik adalah perubahan kehidupan yang drastis dari diri Anda. Apakah saat Anda ganti profesi? Saat Anda mulai melajang setelah perkawinan berusia delapan tahun? Atau saat Anda harus pindah ke lain kota untuk kehidupan yang lebih baik?

Apa pun itu. Itulah titik balik Anda. Tulislah bagian itu dulu. Berbekal foto-foto dan catatan pribadi yang pernah Anda tuliskan di banyak lembar kertas atau blog misalnya.

Lantas, bila kisah itu sudah Anda tulis detail, lanjutkan dengan kisah lain yang terjadi sebelum titik balik itu Anda alami. Tentu ada pergulatan, konflik, juga tantangan, dan impian yang dibangun saat itu.

Berikutnya, Anda dapat menulis kisah hidup Anda di masa sekarang. Pencapaian-pencapaian yang sudah Anda reguk. Kecintaan Anda pada sesuatu. Tanah-tanah negeri baru dan asing yang sudah Anda jejak. Juga keberadaan orang-orang yang ada di masa lalu Anda, kini mereka dimana, seperti apa, dan persepsi Anda  macam apa terhadap mereka?

Maka … menulis kisah hidup sendiri tampak sebagai usaha merekonstruksi perkembangan kedewasaan Anda. Itulah pentingnya menulis autobiografi. Anda dapat memulainya sekarang. Menulis sendiri atau saya bimbing.

Komentar Anda?
%d bloggers like this: