Penulis dan Editor Wajib Sertifikasi dan Uji Kompetensi: Mau Nolak?

Wuih, saya nemu foto teman lama saya sedang bawa poster seperti sedang piknik di pantai. Bedanya, ini dia sedang serius mejeng di poster bertuliskan urusan asesor dan uji kompetensi tenaga (ahli) geomatika.

Jasa penulisan buku & artikel
foto: pixabay.com

Saya jadi ingat diskusi di akun Facebook saya  yang pro-kontra soal penulis dan editor wajib memiliki sertifikat hasil uji kompetensi. . Saling lempat komentar itu seru-seru lucu dan tidak saru.

Saya yang sarjana geografi dulunya memang bergelut dengan urusan geomatika. Ikut tender dan menjadi tenaga ahli di berbagai proyek survei dan pemetaan. Apakah dulu (dan sekarang) hanya pekerja profesional geomatika bersertifikat yang dapat job? Tampaknya tidak juga. Tanpa sertifikat pun kerjaan masih akan datang meski di beberapa channel akan tertutup. Misalnya pada proyek dengan dana pemerintah. Apalagi bagi mereka yang yakin kalau urusan rizki ada di tangan Tuhan semata-mata.

Melacak keberadaan LSP Geomatika ternyata sudah berdiri 2004, artinya sudah 14 tahun ada dan proses sosialisasi masih terus jalan. Bandingkan dengan LSP Penulis dan Editor yang baru seumur jagung karena pengesahan undang-undangnya juga masih “kemarin sore”.

Saya pun tidak memegang sertifikat Geomatika bahkan sampai saya murtad jadi penulis.

Eh, sebetulnya saya mau ngomong apa?

Saya sekadar mau menegaskan bahwa pada akhirnya semua profesi para profesional akan menuju pada titik standardisasi. Penulis dan editor boleh saja (saat ini) menuliskan portofolio sepanjang cerpen atau novelet. Tapi, siapkah Anda bila cerita sukses dan hebat itu untuk dicek kebenarannya? Diminta buktikan melalui wawancara dan kegiatan verifikasi?

Saya kembali ingat ke masa 20 tahun lalu. Saya pun assesor alias penguji untuk para pemohon sertifikasi. Bedanya, saya adalah assesor PHPL (Pengelolaan Hutan Produksi Lestari). Simpelnya, saya bekerja untuk memverifikasi perusahaan-perusahaan perkayuan apakah sudah menerapkan Ekolabel atau belum. Saya keluar masuk masuk hutan, mendatangi perusahaan semacam itu di Kalimantan dan Sumatera termasuk eks Indorayon. Sangat melelahkan karena ada buanyaak dokumen harus kami cek dan crosscheck.

Saya nggak ngerti bagaimana uji kompetensi geomatika dan penulis editor bakal dilaksanakan. Tapi itulah keniscayaan yang saya bilang. Kalau memang oke dengan portofoliomu, ‘napa harus mengerutkan kening dengan proses sertifikasi?

Jadi, sekukuh apa pun Anda menolak atau nyinyir dengan program sertifikasi penulis dan editor, orang lain akan melakukannya. Anda mungkin bisa eksis dan dapat job juga. Bedanya Anda akan jadi orang beda.

Akhirnya, saya juga mau bilang, kompetensi–yang bakal diuji–adalah irisan dari tiga hal yang ada di dalam diri setiap pekerja profesional, yakni SKILL, KNOWLEDGE, dan ATTITUTE. Itu yang mau diuji.

Saya sih pede. Kamu?

Komentar Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *