Bisa Jadi, Ini 6 Alasan Mengapa Pengarang Memakai Nama Pena

mengapa memakai nama samaran penulis
ghostwriter indonesia

oleh Anang YB

Entah berapa banyak pengarang merasa nyaman berlindung di balik nama pena. Mereka tidak mempublikasi karya dengan label nama sesuai KTP. Bagi pembaca, itu bukan masalah berarti. Sedangkan bagi si pengarang, itu kenyamanan besar.

Jangankan pengarang (penulis fiksi) bahkan penulis pun (pembuat naskah nonfiksi) mencari-cari nama baru untuk identitas mereka di dalam kover buku.

Saya pun menggunakan nama ANANG YB sebagai nama pena. Bukan nama asli tentu saja meski teman lama masih mengenalinya karena nama pesa saya itu tetap memuat nama panggilan asli saya.

Berbeda dengan industri rekaman, nama alias atau nama artis itu seolah mutlak. Seringkali nama artis bahkan dibuatkan oleh produser rekaman. Sedangkan di dalam dunia perbukuan, kehendak mengganti atau menyembunyikan nama asli tumbuh dari keinginan si pengarah itu sendiri.

Nama pena tak selalu berbeda jauh dengan nama asli. Terkadang masih mudah ditebak siapa nama dia sebenarnya. Atau si pengarang sekadar menyingkat namanya menjadi akronim. Ada juga pengarang yang benar-benar memakai nama baru.

“Setiap tindakan pasti ada alasan. Demikian juga dengan niat si pengarang untuk memakai identitas baru untuk mengenal dirinya. Inilah enam alasan yang barangkali paling mewakili alasan para pengarang itu.”

1. Nama asli terlalu memperlihatkan ciri suku, ras, agama

Ketika di dunia nyata saya dipanggil-panggil dengan nama marga saya atau nama baptis saya maka saya merasa itu tidak cukup nyaman dipajang di kover buku. Sebab, saya mengarang cerita dengan genre novel dewasa.

Saya juga banyak memuat konflik politik di dalam alur cerita yang saya karang. Sedangkan nama saya Tjan Wan Ting … saya tidak ingin imajinasi pembaca terkonstruksi sebelum membaca karangan saya hanya gara-gara mempersepsikan ras saya dengan isi cerita.

2. Saya ingin melindungi profesi utama saya

jasa memasukkan naskah ke penerbit

Hai, saya dosen S3 di kampus!

Saya memang suka mengarang novel dengan genre horor dan thriller. Sudah pasti kehidupan saya tidak bisa dikaitkan dengan karya-karya saya. Apalagi saya seringkali menyisipkan perlakuan diskriminatif di dunia pendidikan dan pergaulan bebas mahasiswa. Saya lebih leluasa mengarang ketika indentitas saya terlepas saat di depan komputer.

Atau, Anda adalah guru agama dan ada kegelisahan yang perlu Anda tuangkan di dalam cerpen-cerpen Anda. Bahkan ada autokritik atas kehidupan beragama komunitas Anda. Profesi ini wajib Anda pagari agar tidak dicampuradukkan dengan gagasan Anda di dalam karangan.

3. Kehidupan nyata saya terlalu berharga untuk dikaitkan dengan karya tulis saya

cara menulis esai

Banyak hal sudah terjadi di dalam kehidupan saya sebagai single mom. Pahit getirnya tidak mungkin saya share di media sosial sebab itu perilaku dungu. Pelarian saya adalah di dalam karya fiksi saya. Di situ, perlakuan buruk orang terhadap saya dan kaum saya bebas saya kisahkan.

Anda mungkin adalah ODHA. Anda ingin open status tapi “belum sekarang”. Anda ingin hidup normal setidaknya menjadi hero untuk kehidupan Anda sendiri. Mengarang kisah-kisah pendek atau cerita panjang berwujud novel adalah pilihan Anda. Di situ Anda memiliki kebebasan untuk tidak membuka identitas Anda yang sebenarnya.

4. Saya aslinya berbeda jauh dengan "aku" di dalam tulisan

mengatasi macet menulis writer block

Entah kenapa fantasi saya lebih mengalir saat menulis roman remaja. Kisah-kisah gokil mereka, cinta monyet yang seru dan asem. Padahal, ide saya tumbuh dari mengamati kedua anak saya yang sudah kuliah. 

Saya sudah 48 tahun. Saya merasa kagok dan tidak percaya diri untuk mengklaim sebagai penulis novel remaja saat usia beranjak ke kepala lima. Itulah sebabnya, saya nyaman berlindung di balik identitas baru saya, biar dikira saya adalah anak SMA karena tutur cerita yang saya buat.

5. Penulis perlu identitas nama yang easy-listening

cara membuat novel

Jujur, nama asli saya sejuta umat banget. Mau pakai nama depan, eh sudah ada pengarang lain yang memakainya. Pakai nama belakang, kok jadul banget. Mau disingkat-singkat kok malah kayak nama merk camilan.

Saya pun ganti nama. Dua kata yang mudah diucapkan. Ada kesan Korea-nya sebab saya ingin mempersepsikan nama saya dengan genre yang saya tulis. Bersyukur, nama baru itu membuat saya dapat citra sebagai gadis metropolis, pergaulan di kalangan atas, dan ngerti banget dunia mode. Selaras dengan kisah-kisah yang saya tulis. Padahal saya aslinya masih tinggal di Wonogiri sampai sekarang.

6. Saya perlu "ganti" jenis kelamin

tarif ghostwriter

Mungkin saya baper. Tapi, faktanya novel-novel dewasa dengan bumbu sensualitas dan konflik pergaulan bebas lebih laku kalau pengarangnya cewek. Padahal, saya yakin karya saya yang semacam itu sama seksinya, sama-sama bikin geregetan.

Tak ada cara lain, identitas baru wajib saya bikin. Saya harus ganti kelamin sebatas nama pena. Celakanya, tidak sedikit lelaki iseng membanjiri mailbox email saya dengan rayuan yang bikin mual!