Contoh Biografi Orangtua (Ayah dan Ibu)

contoh biografi orangtua
contoh biografi orangtua

Kamu dapat tugas untuk menulis contoh biografi orangtuamu? Mudah kok. Menulis contoh biografi ayah atau biografi ibu tak ada susahnya. Apalagi sosok mereka sudah sangat kamu kenal.

Bagaimana mulai menulis biografi orangtua?

Ini tips dari saya yang sudah biasa menulis biografi. Mungkin tip menulis biografi ini rada aneh dan tidak diajarkan di sekolah. Tapi, coba saja dulu.

Pertama, jawablah pertanyaan ini: apa satu kata sifat yang paling mewakili sosok ayah atau ibumu?

Kedua, pengalaman pribadi apa yang membuatmu yakin dengan pemilihan kata sifat itu?

Ketiga, pengalaman unik apa yang pernah kamu dengar tentang ayah dan ibumu itu yang terkait dengan kata sifat itu.

Keempat, mulailah mengumpulkan foto-foto ayahmu atau ibumu. Semakin lengkap–sejak masih kecil hingga sekarang–semakin baik.

Kelima, mulailah menyusun riwayat orangtuamu. Entah itu riwayat pendidikan maupun riwayat pekerjaan.

KATA SIFAT

Kata sifat yang sudah kamu temukan itu akan menjadi warna dominan dari contoh biografi orangtua yang akan kamu buat. Nah, berikut ini saya berikan beberapa contoh biografi ayah dan contoh biografi ibu ya.

Kata sifat yang dipakai adalah : ayah ulet dan ibu tekun.

Contoh biografi ayah.

Ayahku kini sudah berusia 62 tahun. Ubannya nyaris menutupi seluruh kepalanya. Terlihat, rambutnya makin menipis meskipun belum botak.

Ayahku konon mempunyai panggilan Si Welut. Apa artinya?

Dalam Bahasa Jawa, welut berarti belut. Binatang yang gesit, tak mudah ditangkap, bergerak ke sana dan ke mari tak bisa diam. Kata kakek, ayahku semasa kecil memang sering menghilang. Entah saat harus mengaji maupun saat harus mengerjakan PR.

Ayahku memang lulus SD juga lulus SMP, hingga masuk SMA. Tapi dia tidak lulus. Dibesarkan dalam lingkungan masyarakat pesisir, ayahku sudah tertarik bekerja sebagai pemilah ikan tangkapan nelayan semenjak usia 15 tahun. Itulah sebabnya ia hanya menikmati pendidikan SMA sampai kelas dua saja. Itu pun hanya satu semester.

Ayahku memang ulet. Dari seorang pemilah ikan, memisahkan ikan-ikan kecil dari ikan yang ukuran besar untuk dijual ke penadah, akhirnya ayahku bisa menjadi seorang nakhoda. Tentu saja sekadar nakhoda perahu nelayan kecil. Tapi, itulah titik balik ayahku.

Ayahku yang bernama asli Mumaera akhirnya bisa mempunyai perahu sendiri setelah bekerja siang malam dan bisa berhari-hari melaut tanpa pulang. Bahkan, tiap tahun perahunya bertambah banyak.

Usia 20 tahun, ayahku sudah memiliki enam perahu. Sedangkan teman-teman seumurannya masih menjadi nelayan bayaran. Beberapa di antara teman sebaya ayahku diajak bekerja dengannya. Ayah tidak lupa dengan mereka. Teman sepermainan harus terus dijaga persahabatannya.

Ayahku terus menjadi nelayan, sampai pada suatu ketika dia mengalami kecelakaan. Perahunya bocor, kapalnya tenggelam dan dia terombang-ambing selama dua hari satu malam di lautan. Empat awak perahu lainnya meninggal. Ayahku sendiri yang selamat meski sekarat.

Itu terjadi ketika usia ayahku mendekati usia 50 tahun. Kejadian itu membuat ayahku kehilangan pendengaran hingga 90%. Tampaknya dia sempat beberapa kali tenggelam saat lemas terapung-apung di lautan.

Kini, ayahku tetap menjadi sosok yang ulet. Ia lebih banyak mengabdikan dirinya di masjid. Juga, membina kaum muda di pesisir untuk berwirausaha. Aku bangga dengan sosok ayahku yang tak bisa diam. Seperti belut.

Contoh biografi ibu.

Ibu adalah Mama, begitu aku memanggilnya. Mama konon semasa kecil lebih banyak tinggal di Singkawang, Kalimantan. Semenjak lahir hingga masa-masa lulus SMA, Mama tinggal di kota itu. Hidup sebagai anak seorang pemilik toko kelontong membuat Mama terbiasa menghadapi pelanggan dan berbisnis.

Usia 18 tahun, Mama pindah ke Yogyakarta. Ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Kehendak sendirilah yang membuat Mama nekad ke kota pelajar itu. Tanpa kerabat satu pun yang ada di sana. Sebetulnya kakek dan nenek–orangtua Mama–sudah mencegah. Lagipula toko kelontong di Singkawang siap diwariskan ke Mama karena dia anak tunggal. Namun, tekad Mama sudah bulat.

Di kota Yogyakarta, Mama studi dengan cepat. Rata-rata mahasiswa di sana saat itu baru lulus pada tahun kelima. Sedangkan Mama hanya menempuh studi selama empat tahun saja. Hebatnya, sejak tahun kedua tinggal di Yogyakarta, Mama sudah merintis bisnis. Ia membuka kursus Bahasa Mandarin.

Ketekunan lah yang membuat Mama bisa kuliah sambil merintis usaha kursus itu. Awalnya, Mama membuka usaha itu bersama dua rekan kuliah lainnya. Namun, baru berjalan sebentar, satu temannya sudah bertindak dengan tidak jujur. Uang pengelolaan kursus yang sebetulnya belum membawa untung itu dia bawa kabur. Lembaga kursus itu pun kolaps. Akhirnya satu telan lagi juga memilih mundur. Tinggallah Mamaku harus menanggung kerugian yang cukup besar.

Mamaku memang tekun, ia tidak putus asa. Ia cerdas dan terus mencari siasat untuk menjalankan kursus itu. Ia tidak mau lari dari tanggung jawab. Buktinya, lembaga kursus itu dapat berjalan lagi. Bahkan terus membuka cabang-cabang baru di Semarang, Solo, Malang, Bandung, dan terakhir di Singkawang, kota kelahiran Mama.

Kini, Mama sudah menyandang gelar Master, artinya pendidikan terakhirnya adalah S2. Ia tetap tekun mengelola lembaga kursus Bahasa Mandarin. Tahun 2018, lembaga itu telah berjumlah 80 cabang tersebar di 15 kota besar di Indonesia dengan sistem franchise.

Aku bangga dan terus belajar ketekunan dari Mamaku.


Nah, itu contoh biografi orangtua. Tentu kamu bisa sendiri kok membuat biografi semacam itu. Coba deh. Kalau tugas sekolahmu adalah membuat biografi singkat, maka kamu perlu fokus pada satu sisi kehidupan ayah atau ibu saja. Jangan semua dimasukkan. Tujuannya agar kisahnya tetap menarik dan mendalam meski dibatasi jumlah halaman.

Oke, selamat menulis biografi ayah dan biografi ibumu ….

Salam dari saya Anang YB Ghostwriter Indonesia dan penulis biografi.