Kolam Muna, Baca Novel Horor Itu Asyik Menghibur

Bagaimana pengalaman saya membaca Novel “Kolam Muna” karya Viane Suwasa?

Enam setengah halaman pertama, selesai satu fragmen pengenalan tokoh dan inti cerita yang mau ditawarkan oleh Viane Suwasa. Ini nyaman banget buat saya yang lebih banyak membaca buku nonfiksi. Saya langsung ngerti seberapa renyah, rumit berbelit-belit, dan kejutan yang bakal saya temui di halaman-halaman berikutnya.

Apakah Kolam Muna adalah novel renyah atau malah rumit berbelit-belit? Secara subjektif, novel ini saya masukkan ke dalam kategori novel renyah mudah dikunyah tanpa kerumitan yang mengganggu.

Sebagai novel horor, saya dapat menikmati “Kolam Muna” layaknya sedang duduk menghadapi layar lebar dengan tayangan “Monster House” (2006). Merinding sih iya, kaget-kaget sih sudah pasti. Namun, saya masih dapat menyeruput Cocacola dan popcorn.

Kerenyahan saya rasakan karena Viane Suwasa membiarkan cerita berjalan maju tanpa banyak bolak-balik flashback.  Sebab dan akibat terjalin rapi lurus ke depan seperti kepang rambut. Jujur, dari pemilihan alur kisah ini saja saya sudah langsung menyukainya. (Iya, saya membacanya pas lagi banyak-banyaknya kerjaan.)

kolam muna

Tiga perempuan, mereka memiliki kemampuan lebih untuk bisa merasakan kehadiran makhluk halus. Termuda adalah Risa (8 tahun), yang mendapatkan ilmu linuwih itu dari ibunya, dan ibunya mendapatkannya dari nenek Risa. Sosok Risa menjadi pembuka cerita. Dikisahkan pada awal cerita, Risa, adiknya, dan ayah-ibunya bergegas berangkat ke suatu tempat dengan tergesa-gesa. Ternyata mereka menuju rumah Ari, saudara dan teman Risa. Sampai di tempat itu, Risa melihat Ari sedang terdiam di depan pohon jambu. Ternyata dia ingin mengambil jambu tapi tak mampu memanjat. Risa dengan cekatan memanjat dan mengambil jambu tapi Ari kabur entah kemana.

Ternyata, itu roh Ari. Ari sendiri terbujur kaku di dalam rumahnya dengan wajah pucat, basah, dan dingin. Ari tenggelam di kolam muna.Kisah pun terus menggelinding dengan lancar sampai ke halaman 199.

Sebagai mentor menulis novel, saya merekomendasikan Anda untuk mengoleksi novel ini–entah Anda penyuka novel horor atau novel hiburan lainnya. Saya menangkap ada spontanitas amat kuat (dan kecepatan tinggi) di dalam proses penulisan novel ini. Itu “terbaca” dari perpindahan satu fragmen ke ragmen berikutnya yang ringkas. Satu bab memuat 3-5 fragmen dan tiap fragmen rata-rata dikisahkan menjadi 3-8 halaman novel dengan pemisah ornamen kecil. Ini memudahkan pembaca untuk berhenti sejenak.

Satu banding satu; komposisi antara dialog dan narasi terasa imbang bahkan di sana-sini didominasi dialog sahut-sahutan. Mirip sebuah skenario. Selama Anda menikmati model novel dengan komposisi seperti ini ya baca dan nikmati saja. Bagi saya malah kisah ini jadi lugas dan bergerak nge-gas karena banyaknya dialog-dialog itu. Ya, novel horor cocok dengan penceritaan yang cepat.

Viane Suwasa adalah contoh novelis yang  mampu menulis naskah secara cepat, tanpa banyak kerangka detail yang mengikat, dan hasilnya adalah naskah yang memikat. Itu pujian saya untuk penulis novel Kolam Muna ini.

Hubungi Viane Suwasa di https://www.instagram.com/vianesuwasa/