Mengenal Point of View Naskah Fiksi dan Biografi

jasa ghostwriter dan penulisan biografi
ghostwriter indonesia

oleh Anang YB

Baru pertama kali menulis novel atau naskah biografi? Diserang keraguan saat mau menentukan point of view?

Point of view adalah sudut pandang penuturan kisah. Si penulis menempatkan dirinya sebagai siapa di dalam kisah itu. Apakah sebagai salah satu tokoh di dalam cerita? Atau, dia berlaku sebagai dalang semata-mata?

Kedua sudut pandang itu tampak begitu menggoda dengan sederet kemungkinan pengembangan cerita yang berbeda pula. Tentu Anda akan mengakhiri novel atau naskah biografi yang sama sekali berbeda ketika memilih salah satu point of view.

Hai, jangankan Anda, bahkan saya pun seringkali terjebak pada kesulitan menempatkan diri sebagai penutur cerita. Mau menempatkan diri di mana? 

Seringkali kita merasa nyaman di awal dan sangat yakin bahwa point of view yang ini yang paling oke untuk kisah itu. Saat ada di tengah cerita, terasa ada yang mengganjal dan Anda seperti ada di persimpangan jalan. Apakah saya harus mengganti point of view agar novel atau naskah biografi itu lebih lancar ceritanya?

Saya mau katakan, tanpa menguasai point of view dengan baik, peluang Anda untuk berhasil dalam penulisan novel atau naskah biografi akan menukik ke bawah. Sungguh, saya tidak melebih-lebihkan. 

Bukan berarti saya mengatakan bahwa penentuan point of view novel atau naskah biografi sebagai unsur terpenting, tetapi pahami bahwa elemen itu akan memudahkan Anda untuk:

  • mempertegas kedetailan karakter tokoh yang mudah ditangkap oleh pembaca, dan
  • membuat plot cerita mengalir dengan lancar.

“Setiap jenis point of view mempunyai plus dan minus masing-masing. Pertimbangkan hal itu sebelum Anda meminangnya. Daftar berikut ini bisa Anda pakai untuk rujukan.”

A. Point of View Orang Pertama

Orang Pertama?

Ya. Anda sebagai penulis memakai kata AKU atau SAYA atau terkadang KAMI untuk menegaskan sudut pandang sebagai orang pertama.

Keuntungan menggunakan point of view orang pertama berdasarkan pengalaman saya sebagai pemberi jasa penulisan biografi adalah:

  • saya memiliki akses ke pemikiran terdalam si tokoh utama,
  • saya menulis lebih lancar karena saya adalah si tokoh itu sendiri, dan
  • saya tidak harus membagi konsentrasi sama besar pada pemikiran tokoh-tokoh yang lain.

Namun, point of view orang pertama juga membatasi si penulis. Apa saja itu?

  • penulis terbatas untuk mengembangkan karakter dan emosi di luar si tokoh aku,
  • penulis tidak bisa bercerita secara paralel pada waktu yang bersamaan yang dialami tokoh lain, dan
  • dalam kasus menulis biografi, seringkali kita tidak dapat memasukkan opini atau kisah dari narasumber sekunder karena ada perbedaan kisah.

 

 

B. Point of View Orang Ketiga

jasa penulisan biografi

Point of view orang ketiga menempatkan anda sebagai pengamatan interaksi antartokoh cerita. Secara teknis, Anda bercerita tentang DIA dan DIA juga MEREKA.

Terbanyak novel dan naskah biografi menggunakan penuturan ini dengan cara menyebutkan nama-nama si tokoh. Semua bergerak, berinteraksi membangun plot cerita dan konfliknya.

Apa untung dan rugi menggunakan point of view orang ketiga di dalam novel dan naskah biografi?

Keuntungannya adalah:

  • Anda dapat memperkaya cerita dengan karakter dan sudut pandang tiap tokoh sekontras mungkin,
  • • Anda leluasa berpindah dari satu karakter dan karakter lain dengan pembagian porsi yang sesuka Anda, dan
  • Anda masuk ke pemikiran tiap tokoh dengan muslihat masing-masing.
Ruginya dimanakah?
 
  • Anda kehilangan fokus bahkan kebingungan karena masuk terlalu dalam ke hampir semua tokoh, yang mana tokoh utama menjadi tidak jelas,
  • Anda lelah sendiri karena terforsir untuk berada di banyak kepribadian dan karakter, dan
  • Plot cerita menjadi hilang arah dan lama-lama Anda hilang gairah untuk menuntaskan naskah.

Nah, pertimbangkan hal-hal di atas saat hendak memutuskan pemilihan point of view. Jadi, mana yang terbaik untuk kisah yang sedang Anda tulis? Apakah  satu sudut pandang atau banyak sudut pandang? Seperti kebanyakan hal dalam mendongeng, itu adalah pilihan asasi Anda.

Apakah Anda ingin menyaksikan peristiwa melalui banyak pasang mata sehingga memberi kemungkinan cerita menjadi luas dan penuh warna? Atau, berpegang teguh hanya pada satu sudut pandang sehingga Anda memiliki keunggulan kedalaman konflik batin?

Pada akhirnya itu bermuara pada tuntutan cerita Anda dan efek yang ingin Anda capai. Ya, kan?