Menyunting Naskah Beda dengan Merevisi Naskah

mengatasi macet writer's block
jasa editing naskah

“Naskahnya lagi gue edit ….” balas seorang teman. Ditunggu seminggu dua minggu kok belum kelar. Ternyata dia lagi merombak naskah. Nah, itu termasuk kerjaan merevisi naskah atau menyunting (mengedit) naskah ya?

Sebagai penulis, saya sih tidak terlalu peduli beda dua kerjaan itu. Toh saya mikir-mikir sendiri, nulis-nulis sendiri, dan obrak-abrik naskah sendiri.

Namun, ketika saya harus melayani seseorang–klien maksudnya– mau tidak mau saya harus peduli beda dua tahap menulis itu. Setidaknya, saya dapat mengerem klien agar jangan terburu nafsu untuk segera menimang naskah pesanannya. Dengan menjelaskan bahwa ada lho proses merevisi selain menyunting, mereka jadi mengangguk-angguk saat saya minta untuk menunggu lagi.

Atau, saya sebagai pemberi jasa editing naskah dapat membuat pembeda tarif untuk dua kerjaan yang beda effort itu.

Beda Revisi Naskah dan Menyunting Naskah

Tahap merevisi naskah dilakukan penulis setelah dia membuat draf naskah. Jadi, ambil waktu yang cukup untuk mengisi bagian demi bagian dari outline naskah dengan menuliskan draf. Tulisan itu–meski sudah lengkap–mungkin masih belum enak dibaca, lompat sana lompat sini. Bahkan mungkin ada bagian naskah yang duplikasi.

Ajian merevisi naskah pun dikeluarkan untuk menyulap naskah itu agar asyik dibaca. Itulah yang namanya pemberi jasa editing naskah.

Pengalaman saya dalam menulis 60-an judul buku, tahap merevisi ini adalah tahap untuk tega hati mencincang draf. Artinya, ambil jarak dengan hasil draf itu dan relakan naskah itu untuk dibedah.

Lebih pastinya, revisi naskah adalah tindakan penulis untuk mengubah naskah dengan maksud mengembangkan dan mengoreksi naskah agar semakin sesuai dengan tujuan penulisan.

Lebih konkret lagi, berikut ini 10 tindakan penulis untuk merevisi naskah:

  1. Mengecek struktur naskah: tulisan sudah sesuai outline? Oke, itu artinya Anda setia dengan struktur rancangan naskah. Tapi … outline kan ditulis sebelum riset dan penulisan draf. Bisa jadi Anda baru tersadar. Ada bagian yang tak perlu mendetail. Atau sebaliknya ada bagian yang perlu kedetailan lebih. Jangan ragu dan jangan merasa kerjaan sia-sia ketika Anda sadar harus mengubah susunan bab, subbab, dan subsubbab. Itu hal biasa dalam masa revolusi eh … revisi.
  2. Menambahkan konten: Kayaknya draf masih dangkal pada bab ini. Ya perdalam. Anda dapat mencari referensi baru dan mutakhir. Bila perlu colek ilustrator untuk membuat ilustrasi dan infografis. Tabel-tabel pendukung dapat disisipkan asalkan memperkuat isi secara keseluruhan.
  3. Mengurangi konten: Sebaliknya, saat Anda baca draf terlhat ada bab sepanjang 10 halaman, lainnya ada bab yang hanya berisi tiga halaman. Hemm, apakah enak dibaca bila seperti itu? Bisa jadi ada konten yang melebar kemana-mana. Baca ulang dan jangan ragu untuk blok dan delete (atau simpan dan jadikan artikel blog).
  4. Menggabungkan konten: Dua subbab yang Anda rancang di awal bisa jadi tak ada data pendukungnya. Atau Anda melihatnya terlalu jauh untuk memisahkan menjadi dua bahasan mendalam. Ya gabungkan saja sehingga naskah menjadi padat memikat.
  5. Memisahkan paragraf: Ini tindakan yang saya suka sebagai pemberi jasa menulis naskah. Soalnya, tren sekarang orang lebih suka dan lebih nyaman membaca tulisan dengan paragraf-paragraf pendek. Tentu dengan tidak mengabaikan konsep bahwa satu paragraf mesti punya satu gagasan tunggal. Kalau Anda menemukan paragraf yang berkepanjangan, carilah celah yang memungkinkan paragraf itu untuk dipenggal. Tentu Anda perlu mengubah sedikit kalimatnya agar antar pecahan paragraf itu tetap enak dibaca.
  6. Menggabungkan paragraf: Nah, kok ada paragraf yang gagasannya masih sama dengan paragraf sebelumnya ya. Ya sudah. Gabung saja. Anda yang menulis, tentunya Anda yang dapat merasakan apakah tulisan Anda sebetulnya patut disederhanakan untuk digabung paragrafnya atau tidak.
  7. Mengubah lead tulisan: Dalam buku “Freewriting” yang saya terbitkan di Elexmedia, proses membuat draf memang belum memasukkan unsur keindahan dan daya pikat. Pokoknya tulis tanpa jeda dalam tempo tertentu. Karenanya, dalam tahap revisi ini Anda perlu memoles lead atau paragraf awal. Daya pikat harus ada di setiap awal paragraf ini. Entah Anda mengubahnya dengan kalimat tanya, kalimat naratif, deskriptif, dll.
  8. Mengubah gaya tutur: Ups … kenapa tulisannya jadi kayak gaya emak-emak ya? Padahal awalnya Anda ingin membuat naskah untuk kelompok pembaca mahasiswa dan karyawan muda. Yah, merombak banyak dong? Ya iya. Tetap Anda wajib lakukan itu agar lolos seleksi di penerbit. Cari idiom dan kata-kata yang mewakili kelompok pembaca Anda.
  9. Mengganti judul: Nah, judul seringkali kita sematkan di dalam draf sekadar untuk memberi identitas atas isi naskah pada bagian itu. Anda belum memusingkan keindahan dan daya pikat atas judul bab, judul subbab, bahkan judul naskah itu. Saatnya Anda ambil waktu khusus untuk menjuduli (istilah apa nih ya) tiap bagian naskah Anda.
  10. Memecah naskah: Astaga, naskahnya kok jadi 300 halaman A5? Ketebalan dong. Baca ulang deh. Siapa tahu ada bab tertentu yang bisa Anda sisihkan sebagai modal untuk membuat naskah berbeda. Baca ulang struktur naskah dan bayangkan Anda membuat dua naskah dari draf itu. Itu untungnya kalau Anda tidak buru-buru untuk berkata: naskahku sudah selesai. Kalau Anda adalah pemberi jasa editing naskah, tindakan ini wajib Anda komunikasikan dengan klien terlebih dahulu.
jasa editing naskah
jasa editing naskah

Menyunting Naskah

Nah … lantas apa bedanya merevisi naskah dengan menyunting?

Menyunting naskah alias mengedit dilakukan setelah Anda mengobrak-abrik draf. Anda sudah puas dengan konten dari halaman depan sampai belakang. Saatnya mengecek naskah itu terutama ….

  1. Menemukan typo error: Telunjuk pun bisa kilaf. Ia menuliskan kata asmara menjadi asrama misalnya. Demikian pula dengan kesalahan kata depan dan awalan. Penempatan titik dan koma, salah mengetikkan elipsis dan tanda baca lainnya. Cek saja dan betulkan.
  2. Temukan inkonsistensi: penulis pemula seringkali memakai kata saya dan aku dalam satu naskah yang sama. Ini hal sepele tapi serasa seperti kerikil di mata pembaca. Penulisan kutipan, pemakaian huruf miring, dan lain-lain wajib Anda cek seberapa konsisten.
  3. Mengecek kelengkapan struktur kalimat. Minimal kalimat jelas ada subjek dan predikat. Tanpa itu, Anda wajib menyisipkannya. Saya sendiri sering memelototi kalimat yang ada kata “yang”. Apakah di depannya sudah ada subjek atau objek?
  4. Mengecek legalitas: Anda sering memasukkan konsep dan definisi? Berhati-hatilah, sebab konten itu seringkali dicetuskan seseorang dengan hak yang melekat pada diri penciptanya. Misalnya konsep The Cashflow Quadrant atau konsep Manusia Pembelajar, konsep 4P dalam marketing, dll. Semua itu ada rujukan. Jangan sesukanya ambil apalagi yang berbentuk grafis dan diagram.
  5. Cek faktanya juga: Ini membosankan apalagi untuk Anda yang biasa menulis cepat. Juga Anda yang berprofesi sebagai penulis biografi seperti saya.  Jangan malas untuk cek dan ricek. Apa Anda mau digugat atau ditertawakan karena data Anda sudah usang? Atau Anda mengambil referensi yang lemah? Sempatkan untuk mengecek ya.
menulis buku biografi
foto: pixabay.com

Nah, dalam praktiknya, ada juga istilah editing berat. Kalau ini, adalah istilah yang mirip dengan pekerjaan merevisi naskah. Saya pun sangat senang–bahkan lebih senang–mengerjakan editing berat ini. Ada keleluasaan untuk memasukan unsur seni dan menyematkan daya pikat ke dalam naskah.

Bahkan, kebanyakan klien perbaikan naskah memanfaatkan pengalaman profesional saya dalam jasa editing naskah berat ini. Tulisan mereka menjadi bagus dan memenuhi standar penerbit. Cek pad laman LAYANAN untuk memilih jasa editing naskah saya ini. Di sana sudah tercantum juga tarif editing saya ….

Wah, udah 1000 kata. Udah dulu ya. Salam dari saya, Anang YB penulis biografi dan ghostwriter Indonesia.