Panduan Menjadi Writerpreneur Tanpa Sakit Jantung

Menjadi writerpreneur itu sudah jelas langkah-langkahnya. Temukan “harta karun” dimana penulis dapat fee dari pekerjaan itu, lantas bekerjalah sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya maka uang akan datang.

jasa menulis biografi
penulis biografi indonesia
sumber pixabay.com

Ujungnya–entah Anda menjadi penulis biografi, blogger berbayar, memberikan jasa sebagai ghostwriter, ataukah novelis–Anda malah kewalahan. Pagi sudah sibuk membalas surat-surat elektronik, siang menemui calon klien, mewawancarai klien, sambil baca referensi dan curi-curi waktu untuk menulis. Entah itu baru sekadar menulis draft tulisan, atau malah menyunting naskah lainnya, termasuk harus pontang-panting cari penerbit.

Malam pun bukan berarti tak bisa langsung tarik selimut dan meluruskan punggung. Masih ada artikel pesanan klien yang harus ditulis sebanyak 500 kata, dan membuat penawaran untuk calon klien yang mengontak siang tadi.

Mabuk kerjaan? Iya. Itulah writerpreneur. Sukses dan laris manis pun harus dibayar dengan punggung yang serasa mau patah dan mata berkantung menghitam seperti panda.

Saya pun sudah merasa sebagai writerpreneur dan pernah ada dalam situasi itu. Selain menawarkan jasa ghostwriter, saya juga menjadi editor lepas. Entah untuk perseorangan maupun melayani penerbit Elex Media Komputindo dan Pohon Cahaya di Yogyakarta.

Cuma itu? Tidak.

jasa penulisan biografi
jasa penulisan biografi

Hidung saya cukup tajam mengendus aroma uang dari profesi seorang writerpreneur. Ketika belum banyak orang melirik jasa layanan self publishing atau penerbit indie, saya sudah membuka jasa cetak buku secara print on demand (POD).

Saya dan kawan yang bisa mendesain membuka jasa cetak terbatas itu. Orderan mengalir deras dan duitnya memang lumayan banget. Tapi capeknya memang luar biasa. Satu permintaan cetak buku dengan keuntungan “hanya” beberapa ratus ribu harus melalui tek-tok email berkali-kali bahkan belasan untuk konfirmasi editing, desain, dan pencetakan. Bayangkan, kalau klien cetak print on demand itu belasan klien makan saya harus meluangkan waktu melayani ratusan email untuk keuntungan “hanya” beberapa juta rupiah bulan per bulan.

Alhasil, kegiatan menjadi penulis naskah buku, penyunting naskah orang lain, menyiapkan artikel untuk konten website, dan melayani cetak buku indie menjadi pundi uang sekaligus penyedot energi yang amat luar biasa …. capeknya.

Multitasking justru “membunuh” saya selaku writerpreneur. Belum lagi ketika ada undangan memberikan workshop di banyak tempat.

jasa ghostwriter di jakarta
jasa ghostwriter di jakarta

Temukan Satu Jasa Penulisan Paling Menghasilkan

Bukan berarti saya tidak berusaha untuk mengatur waktu sebagaimana seorang entrepreneur seharusnya berlaku. Saya manfaatkan sticky note di laptop untuk menyusun to-do-list. aneka aplikasi di ponsel juga saya coba untuk mengatur waktu kerja saya. Termasuk menuliskannya ke dalam Google Calendar.

Jadwal saya memang lumayan tertata. Kegiatan untuk memberikan jasa ghostwriter di Jakarta dan sekitarnya sudah saya jadwalkan kapan hari khusus wawancara. Biasanya dalam satu hari saya usahakan menemui beberapa klien sekaligus sekalian keluar rumah. Ini bisa saya pas-paskan dengan kegiatan dari jasa menulis biografi yang juga saya lakoni. Setidaknya, ada dua hari dalam seminggu yang saya pakai untuk ke luar rumah.

Selebihnya, saya full ada di rumah alias kantor Ghostwriter Indonesia. Ideal? Ternyata belum!

Efek dari kesukaan saya main di medsos dan makin matangnya situs Ghostwriter Indonesia membuat orderan datang dan datang terus. Tak sampai membanjir, memang. Tapi, berapa sih kemampuan seorang penulis yang mengaku sebagai writerpreneur profesional mampu melayani klien dalam setiap tahunnya?

Taruhlah satu naskah selesai dalam dua hingga tiga bulan maka jasa penulisan seorang writerpreneur cuma mampu meng-handle empat hingga enam klien.

Lha kalau sebulan datang “hanya” satu orderan saja maka itu sudah overload kerjaan, kan. Saya sebagai pemberi jasa ghostwriter dan penulis biografi apakah mengalaminya? Iya banget. Gara-gara situs Ghostwriter Indonesia yang sudah menempati page one Google, tampaknya.

Maka, lagi-lagi writerpreneur “membunuh” saya karena susah membendung orderan.

Saya pun akhirnya harus mengambil keputusan pahit. Keputusan itu saya tuangkan dalam janji “pramuka” saya. Ada tiga janji writerpreneur yang saya sumpahkan pada diri saya, yaitu:

Satu, saya hanya berfokus pada pekerjaan yang betul-betul menghasilkan

Dua, saya akan menggunakan waktu saya hanya untuk mengerjakan pekerjaan yang saya pilih itu.

Tiga, semakin cepat saya menyelesaikan pekerjaan maka semakin besar penghasilan saya dari pekerjaan yang saya fokuskan itu.

Itulah salah satu rel yang akhirnya saya ikuti. Tip sukses writerpreneur itu saya pakai sampai sekarang. Setidaknya saya sudah bisa memilah aktivitas saya menjadi:

Aktivitas utama untuk waktu terbanyak saya yaitu pekerjaan-pekerjaan terpenting dan paling menghasilkan yakni memberikan jasa ghoswriter dan jasa menulis biografi;

aktivitas sekunder yakni pekerjaan lain yang dapat dikerjakan di luar waktu utama dengan kompetensi yang “terlanjur” saya miliki yakni jasa menyunting naskah;

aktivitas tambahan lainnya yang lebih bersifat pelayanan seperti memberikan pelatihan, mengajar ekstrakurikuler jurnalistik, dan juga mengadakan kuliah online.

Bahkan, untuk pekerjaan sekunder pun saya selektif. Misalnya, untuk pekerjaan menyunting saya hanya menerima permintaan jasa editing naskah level berat dan jasa konversi karya ilmiah menjadi naskah buku populer.

Alasannya?

jasa ghoswriter buku
jasa ghoswriter buku

Pertama, relakan pekerjaan ringan dengan tarif rendah untuk editor lainnya. Banyak rekan yang berebut job di golongan ini. Mereka bahkan banting-bantingan harga untuk dapat orderan jasa menyunting naskah.

Kedua, penyuntingan level berat butuh kompetensi tertentu. Saya sudah melakukan investasi untuk sampai pada level itu. Termasuk, menempuh pelatihan untuk mampu mengonversi karya ilmiah menjadi naskah buku populer.

Pekerjaan lain yang saya selektif–karena bukan pekerjaan utama–adalah menulis artikel. Meski di luaran jasa menulis konten website hanya berharga puluhan ribu per artikel, tetapi saya mematok harga minimal seratus ribu hingga dua ratus ribu per artikel. Harga ini terasa mahal jika melihat persaingan di antara pemberi jasa penulisan artikel website lainnnya.

Tapi, saya memberikan jaminan bahwa kualitas artikel website yang saya buat sebaik kualitas naskah untuk penerbitan buku. Kalau mau, mari saya layani. Kalau kemahalan, silakan mengontak pemberi jasa menulis konten website di lapak-lapak lainnya.

Relakan Pekerjaan

Pada ujungnya, saya sebagai seorang writerpreneur pun belajar untuk berani menolak pekerjaan, melakukan negosiasi waktu penuntasan pekerjaan, cari-cari partner yang dapat membantu saya, dan mengurutkan pekerjaan berdasarkan skala prioritas.

Inilah empat kuadran wajib untuk suksesnya seorang writerpreneur dalam memilah skala prioritas.

Pertama, KERJAKAN

Ini adalah lampu merah sekaligus lampu kuning. Pekerjaan-pekerjaan yang harus dikerjakan dengan tingkat perhatian tinggi. Tidak bisa ditunda. Kadang harus tuntas dalam tempo 24 jam. Termasuk di dalam pekerjaan ini adalah menyelesaikan naskah dalam tenggat waktu yang mepet, menemui klien, melakukan wawancara untuk penyelesaian jasa menulis biografi maupun jasa ghostwriter. Ada lagi? Banyak … salah satunya merespons email selambatnya 24 jam sejak email masuk dan membalas pesan di WhatsApp pada hari kerja yang sama.

Kedua, JADWALKAN

Beruntung, ada beberapa pekerjaan yang dapat ditunda pelaksanaannya. Taruhlah dalam proses memberikan jasa menulis biografi. Saat saya sudah selesai dengan outline-nya, saya masih bisa menunda minggu depan untuk melakukan wawancara pertama dengan klien. Kalau pada bulan yang saya saya juga mempunya klien untuk jasa ghostwriter, maka saya dapat membuat jadwal terbaik untuk kedua klien itu. Deadline naskah pun mudah untuk saya susun jadwalkan sesuai kemampuan saya untuk menuntaskannya. Meski begitu, saya tetap berusaha tertib jam kerjanya. Semua dimulai pukul 08.00 dan berakhir pada 17.00

jasa ghostwriter buku jakarta
jasa penulisan biografi

Ketiga, DELEGASIKAN

Saya pun pada akhirnya memilah pekerjaan-pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh orang lain. Pekerjaan itu misalnya mentranskrip rekaman suara wawancara untuk jasa penulisan biografi dan jasa ghostwriter. Pekerjaan ini melelahkan dan cukup menyita waktu. Mending saya alokasikan dana untuk membayar jasa profesional. Saya pun terkadang merekrut editor untuk menyunting naskah saya. Tentu saja sebatas editing ringan dan proofreading. Sebab, sentuhan akhir naskah tetap ada di kendali saya. Pekerjaan lain yang bisa didelegasikan adalah melakukan riset. Ini tahap yang penting sekali dalam menulis biografi dan pekerjaan ghostwriter. Untuk pekerjaan ini, saya sebagai seorang writerpreneur sangat terbantu dengan kompetensi istri saya yang berpengalaman 17 tahun bekerja di Litbang Harian Kompas.

Keempat, TOLAK

Ini yang beraaaat, Gaes! Seringkali pekerjaan sudah membludak dan tiba-tiba ada orderan membuatkan naskah biografi atau meminta jasa ghostwritter. Apa daya, bimbang antara bayangan waktu yang tak ada slotnya lagi dengan iming-iming uang tarif jasa penulisan biografi yang bikin mata hijau. Tolak? Pada akhirnya memang harus bisa menolak. Setidaknya menjawab: bisa menunggu bulan depan, Pak? Puji Tuhan, klien hampir selalu bisa mengerti. Mereka akan menunggu bila tidak buru-buru. Mungkin karena mereka memang sudah survei dan membanding-bandingkan antarpemberi jasa penulisan biografi dan jasa ghostwriter yang mulai menjamur saat ini.

So, itulah lika-liku dan lekak-lekuk menjadi seorang writerpreneur profesional. Uang memang menjadi tujuan tetapi kesehatan tetap utama. Jangan sampai Anda konyol seperti saya: kena serangan jantung karena tidak sanggup menolak pekerjaan dan pesona penghasilan writerpreneur yang tanpa batas!