Penulis Biografi di Gorontalo – Sulawesi

Akhirnya, kota Gorontalo jadi tempat saya untuk berbagi jurus menulis buku biografi. Persisnya dimana? Di kampus Universitas Negeri Gorontalo. Ini kali kedua saya datang ke kampus Merah Maron, julukan khas kampus dengan puluhan ribu mahasiswa itu.

Penulis Biografi Gorontalo SulawesiPenulis Biografi Gorontalo Sulawesi

UNG ada di tengah kota Gorontalo, kampusnya luas banget. Bahkan sekarang nambah lokasi baru di Kabupaten Bone Bolango. Bisa segede gitu karena tiap tahun mereka menerima 5000 mahasiswa baru!

 Penulis Biografi Gorontalo Sulawesi
bentor gorontalo

Tentu ada kisahnya kenapa saya bisa sampai ke kota yang terkenal dengan bentor (becak-motor) itu.

Kisahnya dimulai semenjak 23 Januari 2017. Iya, hampir dua tahun lalu. Saat itu saya dikontak pihak kampus UNG untuk memberikan jasa menulis biografi.

Wah, meski saya sudah berkali-kali memberikan jasa penulisan buku biografi, tapi colekan itu menjadi istimewa.

Pertama, klien saya biasanya adalah sahabat difabel dan pengusaha atau pejabat. Kalau rektor, wah ini bakal jadi debut pertama.

Kedua, Gorontalo itu jauuuh dari Bekasi. Artinya: saya suka! Bayangin, saya pertama kali mengunjungi kota itu hampir 20 tahun lalu. Ini kesempatan bagus banget untuk bisa mengunjungi kota dengan makanan pedas itu.

Penulis biografi di Gorontalo
Penulis biografi di Gorontalo Sulawesi

Singkat cerita, deal deh kami. Saya mewakili Ghostwriter Indonesia selaku pemberi jasa menulis biografi dengan pihak kampus Universitas Negeri Gorontalo tersebut.

Asyiknya, contact person saya dari UNG, yakni Pak Basri Amin adalah penulis produktif dari kampus tersebut. Ia rutin membuat tulisan populer untuk media massa lokal Gorontalo. Wajar bila beliau paham betul proses penulisan yang bakal dilakukan oleh tim Ghostwriter Indonesia. Demikian pula dengan tarif jasa menulis biografi pun tidak banyak mendapat revisi.

Pertemuan pertama dengan narasumber utama buku biografi tersebut berlangsung formal. Dalam artian saya dan pak rektor, yakni Syamsu Qamar Badu berbincang belum mendalam. Beliau pun sesekali masih menengok-nengok ponselnya saat berbincang dengan saya. Konon, itu ekspresi yang berarti kami belum klik. Bener gitu ya? Hahaha ….

Dalam tahap penulisan buku biografi, pertemuan pertama sangat penting. Kenapa?

Ya, sebab melalui pertemuan pandangan pertama itu, si calon klien berhak untuk berkata: saya batal memakai jasa menulis biografi Anda. Alasannya? Banyak. Tapi yang terutama adalah tidak tumbuhnya trust saat bertemu dengan calon penulis biografinya.

Kalau tidak ada trust, mana mungkin proses penulisan buku biografi dapat terjadi? Nantinya si narasumber akan dikorek kehidupannya sedalam-dalamnya. Kasarnya akan terjadi pembongkaran masa lalu yang sebagian di antaranya adalah sisi kelam dia. Tanpa trust, mustahil proses itu terjadi dengan lancar.

Pun sebaliknya, si penulis buku biografi pun berhak menggelengkan kepala terhadap rencana kerja sama itu.

Biasanya karena feeling dia merasakan getaran bahwa proses penulisan buku biografi akan terkendala di kemudian hari. Entah karena si calon klien terlihat sulit diajak berkomunikasi, kemampuan calon klien dalam pembayaran, atau ketertutupan si calon klien yang terbaca sejak pandangan pertama itu.

Beruntung, feeling kami kok saling klik walau tak akrab-akrab betul pada pertemuan itu. Saya maklum. Beliau rektor. Demikian pula saya pun berusaha menaruh hormat setingginya terhadap beliau.

 

note: kemarin dalam pertemuan terakhir saya dengan beliau, saya main ke rumahnya dan ditemui dalam suasana amat santai. Kami berbincang banyak hal. Dan, beliau hanya berkaos dan bercelana pendek. Sungguh pertemuan berulang kali dalam dua tahun ini telah mendekatkan kami.

Tahap-Tahap Menulis Biografi

Waktu pun terus berjalan. Proses wawancara banyak mengandalkan kedatangan pak rektor di Jakarta. Lebih sering kami lakukan wawancara di lobi hotel. Atau, sambil makan. Pernah di hotel Sultan, di apartemen Kalibata, juga di salah satu hotel di kawasan Senen.

Sampai pada waktunya saya wajib ke Gorontalo. Wah, horee … banget. Kedatangan ke kampus UNG memang mau nggak mau wajib dijadwalkan. Sebab, proses menulis buku biografi juga memerlukan narasumber sekunder yakni orang-orang di sekitar.

Penulis biografi di Gorontalo

Mereka adalah para dekan, wakil rektor, juga beberapa mahasiswa, dan pihak-pihak lain. Ada di dalam kelompok terakhir itu adalah para kolega rektor yakni bupati dan gubernur dan wakilnya.

Makin tertantang lah saya!

Tak mungkin saya datang sendiri mengingat jadwal yang singkat dengan narasumber buku biografi yang berderet-deret. Saya ajaklah asisten full time saya yang berpengalaman sebagai eks peneliti dan manajer di harian Kompas.

Tentu saja seru acara mencari bahan untuk menulis biografi di Gorontalo. Saya banyak mendapat informasi dan data prestasi kampus selama kepemimpinan Syamsu Qamar Badu.

Tak kalah serunya adalah makan malam bersama Bupati Bone Bolango dan mewawancarai beliau. Juga bertemu dengan wakil Gubernur Gorontalo yang ramah dan halus tutur katanya.

Oh ya, UNG termasuk salah satu penerima mahasiswa Bidikmisi terbanyak. Tiap tahun ribuan mahasiswa dengan status penerima beasiswa tersebut masuk ke kampus Merah Maron itu. Sudah pasti, beberapa mahasiswa menjadi sasaran wawancara saya.

Ada kesialan juga yang saya alami. Saat mewawancarai Wakil Rektor 3 bidang kemahasiswaan, saya tidak sadar kalau voice recorder mati di tengah wawancara. Alamak. tak mungkin untuk meminta wawancara ulang mengingat padatnya jadwal saya dan beliau.

Tak ada cara lain selain merekonstruksi ingatan kami saat wawancara berlangsung.

Drafting

Ada banyak bahan tulisan untuk buku biografi bisa digali. Apalagi, jejak digital sudah tersebar secara meluas dan bebas akses.

Saya memanfaatkan website kampus, media sosial mereka, melacak ke database Kompas, dan juga terbitan media internal UNG.

Untuk mendalami alur berpikir, visi, misi, dan kepemimpinan beliau, saya dan tim Ghostwriter Indonesia melacak semua pidato resmi beliau. Saat mencalonkan diri selama dua kali menjadi rektor, pidato ilmiah, dan tulisan-tulisan beliau. Sudah pasti tulisan-tulisan itu pada awalnya berbahasa formal cenderung ilmiah. Kami rombak sedemikian rupa sehingga satu gaya bahasa dengan bab-bab lainnya di buku biografi rektor UNG itu.

Menerbitkan Buku Biografi

Lantas, saat draft penulisan buku biografi selesai dan berwujud, apakah langsung disetujui? Hampir pasti tidak lah. Klien dalam hal ini pak rektor dan timnya membaca detail tulisan saya. Di situ, saya selaku pemberi jasa menulis biografi seperti menghadapi sidang skripsi.

Beruntung, tak banyak yang dirombak. Memang beberapa bagian naskah biografi rektor itu diperhalus, dikurangi kontennya, atau diperdalam pembahasannya. Penggambaran emosi si tokoh juga dicek ulang.

Misalnya saya menulis bahwa pak rektor merah padam saat menerima laporan mengenai kerusuhan di kampus.

“Pak rektor tak pernah merah padam, Pak.” begitu koreksi stafnya.

Berkali-kali koreksi dan berkali-kali foto bertambah dan bertambah lagi.

note: jasa penulisan biografi di Ghostwriter Indonesia juga menyertakan pembuatan buku cetak coba atau dummy. Kami sampai membuatkan tiga kali revisi dummy untuk biografi rektor UNG ini.

Dan …. akhirnya final juga naskahnya. Cover buku biografi itu pun final juga. Tiba saatnya untuk mencarikan penerbit dengan gengsi tinggi. Relasi saya dengan beberapa penerbit di bawah payung Gramedia Publisher sangat baik. Enaknya, tak ada fee tambahan untuk proses mencari penerbit buku biografi ini.

 Penulis Biografi Gorontalo SulawesiPenulis Biografi Gorontalo Sulawesi

Kami dari Ghostwriter Indonesia selalu berkomitmen mencarikan penerbit yang paling cocok untuk naskah klien. Tanpa biaya tambahan tentu saja.

Negosiasi melalui beberapa kali meeting dilakukan antara saya selaku penulis, pihak kampus, dan penerbit. Angka pun keluar. Demikian pula format buku, dan skedul sampai launching.

Lancar? Boleh dibilang begitu meski pada akhirnya kampus memutuskan memakai penerbitan kampus untuk menerbitkan buku itu. Saya selaku pemberi jasa penulisan buku biografi membebaskan klien untuk memutuskan area itu.

Buku itu pun terbit satu setengah tahun setelah proses yang amat panjang.

Dan … tanggal 8-10 Nopember 2018 saya disambut lagi untuk datang ke kampus itu. Bukan lagi untuk menjejak langkah pak rektor UNG tetapi untuk sharing proses penulisan buku biografi Rektor UNG di depan ribuan mahasiswa baru kampus merah maron itu.

Saya merasa sangat terhormat. Kepercayaan UNG kepada saya dan Ghostwriter Indonesia selaku pemberi jasa penulisan biografi adalah anugerah yang amat indah. Suer!