Perempuan Harus Tunduk?


SURYA CANDRA: TUNDUK, oleh Fithriyah. Penerbit: Mecca Publishing, 2022, 238 halaman

Potret perempuan ada di sejuta tempat. Entah di media sosial, di dalam kabar media cetak dan daring, bahkan di dalam pantulan cermin.

Pada setiap zaman, perempuan pun menjadi bahan cerita dari pujangga dan para tetua. Kisah amat klasik seperti Siti Nurbaya, Cinderella, Oshin, hingga transformasi Hidup Marimar ataupun Maria Mercedes.

Novel “Surya Candra: Tunduk” yang saya terima langsung dari penulisnya, Fithriyah, adalah salah satu novel yang mengangkat isu sensitif perempuan. Cukup mengagetkan saya karena novel pertama yang dibuat si penulis ini dilengkapi dengan daftar pustaka. Ada apa?

Ya, tampaknya penulis–saya mestinya pakai kata ‘pengarang’ tapi karena buku ini penuh riset, saya naikkan sebutannya menjadi penulis–tidak main-main saat menyusun cerita.

Ada tiga soal besar yang secara implisit menjadi isu penting penggerak cerita. Pertama, isu tentang perempuan dengan sindrom asperger, isu kekerasan dalam rumah tangga, dan isu pranikah/nikah dari sudut pandang ajaran Islam. Sedemikian pentingnya menjaga validitas data dan pemahaman atas tiga isu itu, penulis tak hanya membekali diri dengan banyak referensi. Ia merajut kata dalam tempo lama dan mengikuti empat kelas menulis dan empat mentor. Termasuk kelas menulis novel di Akademi Penulis Buku dengan pendampingan oleh mentor senior Anang YB.

Secara terbuka, penulis mengakui bahwa kisah-kisah di dalam novel Tunduk ini berbasiskan kejadian nyata–hal ini tercantum gamblang pada kover depan. Demi amannya, kumpulan kisah itu batal dia buat sebagai memoar. Lahirlah novel ini.

Sebagai produk fiksi dengan riset mendalam dan berbasiskan kejadian nyata, saya mendapatkan dua manfaat usai membaca hingga halaman terakhir, yaitu wawasan saya soal sindrom asperger, KDRT, dan pengetahuan tentang pernikahan sesuai syariat Islam. Manfaat kedua adalah, penulis sukses memancing empati saya terhadap keberadaan perempuan terutama muslimah dalam konteks mereka di dalam lembaga perkawinan.

Hal positif dari novel Surya Candra: Tunduk adalah keberhasilan si penulis untuk membesut isu besar dan sensitif–boleh juga disebut isu yang disembunyikan–menjadi jauh lebih mudah dipahami karena disajikan dengan cara bercerita. Pola novelisasi isu juga menghindarkan terjadinya kesan menggurui yang biasanya membuat sebal pembaca. Sebuah story telling membebaskan pembaca untuk mengambil nilai-nilai dari kisah itu secara merdeka, bukan dicekoki dengan satu dan satu-satunya pesan dari si penutur.

***

Buku ini seperti kelir tempat para perempuan jatuh, bangun, menangis, dan menjerit. Sebagai bingkai atas drama-drama kehidupan perempuan dihadirkan sosok Azka, seorang aktivis di bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan (P3). kasus-kasus perempuan berkelindan di dalam kehidupan si aktivis ini.

Terkadang, Azka mampu menjaga jarak dengan kasus-kasus yang dia tangani. Ada kala lain, keperempuan dia terpancing dan melahirkan banyak gugatan di dalam dirinya.

“… mengapa korban bertahan dengan pacar yang melakukan kekerasan dan membahayakan jiwanya? Menurut saya itu sangat tidak logis. Karena mereka belum memiliki ikatan apa pun,” tanyaku. (hlm 6).

Sebuah pertanyaan abadi tentang perempuan yang tunduk dan lelaki yang lihai menundukkan. Atas nama cinta ataupun atas alasan para lelaki: aku tak bisa hidup tanpamu, tegakah kamu meninggalkan aku?

Sudah pasti, novel ini bukan buku how-to. Memang, beberapa halaman masih mengesankan gaya tutur ala text-book ketika memapaparkan analisis dan data-data. Namun, sudah tampak jelas kerja keras penulis dan editor untuk menyederhanakan itu semua agar lebih encer dan populer.

Maka, tampaknya kutipan di bagian depan buku layak untuk dipindah ke halaman paling belakang. Sebab, kutipan itu justru menjadi bahan refleksi sekaligus cliffhanger. Yakni, gaya penutup cerita yang mencegah pembaca meletakkan buku di akhir bab. Sebuah akhir tanpa akhir sebab ada  momentum  untuk menunggu jawaban sekaligus solusi atas problem abadi perempuan.

Kutipan apa itu?

Ini: “… mengapa perempuan sejak dini usia, dituntut mendukung keluarga bak Khadijah, tetapi lelaki tak diwajibkan mulai belia ‘tuk memuliakan keluarga ala Rasulullah?”

–Anang YB